Sepanjang perjalanan, Rayhan tidak bisa mengalihkan pikirannya. Dia masih saja penasaran, kenapa Mamanya bisa datang ke sekolahnya? Apa ada masalah?
Sesampainya di rumah, Rayhan mendapati Sari tengah berada di kamarnya dan sepertinya memang sengaja menungunya pulang.
“Mama.”
“Rayhan, sudah pulang ternyata.”
“Mama kenapa? Ada masalah? Tadi, Mama ke sekolah?” tanya Rayhan yang melihat wajah Mamanya yang menggambarkan jika tidak ada yang baik-baik saja.
“Rayhan, harusnya mama yang tanya sama kamu. Kamu baik-baik saja kan?” tanya Sari dan Rayhan semakin terheran dengan apa yang Sari tanyakan.
“Aku? Aku gak apa-apa. Memangnya kenapa?” tanya Rayhan dan terlihat dari wajah Sang Mama, jika memang ada sesuatu yang tengah dikhawatirkan.
“Tadi mama ke sekolah dan sempat bicara sama wali kelas kamu. Papa bilang kalo kamu beberapa kali bikin ulah, terutama ke wali kelas kamu. Sepertinya, wali kelas kamu sudah angkat tangan masalah kelakuanmu.” Apa yang dikatakan Sari membuat Rayhan tidak isa diam begitu saja. Kenapa dia yang disalahkan untuk masalah ini?
“Mama, memang ada apa sih? Kenapa juga Mama ketemu sama Bu Dini? Bu Dini gak seperti yang Mama kira.” Rayhan mulai memprotes.
“Han, tapi bagaimanapun Beliau itu tetap guru kamu. kamu tetap butuh bantuannya.” Rayhan mengggeleng. Dia tidak bisa menerima semua ucapan Sari. Rayhan tahu, jika wanita itu hanyala seorang pelakor.
“Mama kenapa sih masih percaya sama perempuan modelan Bu Dini? Bu Dini itu bukan perempuan baik-baik.”
“Rayhan, apapun yang terjadi, jangan sampai kamu tidak bisa menghormati guru kamu sendiri.”
“Kenapa juga aku garus menghormati dia? Apa ada alasan aku harus menghormati dia selain guruku? Aku tau siapa Bu Dini.” Rayhan mengatakan itu dengan sadar dan dia juga punya bukti dan keyakinan jika Andini menikah dengan Papanya hanya karena uang.
“Han, Mama hanya meminta kamu untuk menghormati guru kamu, terlepas siapa dia sebenarnya.”
“Aku gak mau. Aku gak akan pernah mau menghormati Bu Dini sampai kapanpun.” Rayhan memilih pergi.
“Rayhan, mama belum selesai bicara. Jangan kabur gitu dong!”
“Mama, aku gak mau bahas apapun kalo itu tentang Bu Dini. Aku gak mau bahas apapun tentang Bu Dini.” Rayhan bahkan tidak ingin menoleh.
“Rayhan, dengerin Mama dulu! Sebentar saja!”
Apa yang baru saja diucapkan Mamanya, membuat Rayhan terdiam dan menatap Sari. Sari mendekatinya dan tersenyum.
“Apapun alasanmu, jangan pernah mengecewakan mama. Mama minta kamu harus tetap menghormati wali kelas kamu. Entah sampai kapan itu.”
“Mama ini aneh. Aku harus menghormati orang yang jadi duri diantara kita? Aku harus menghormati orang yang menjadi duri dalam keluarga kita? Aku gak mau.”
“Han, apapun alasanmu, kamu belum punya cukup bukti untuk membuat mereka mengakui semuanya. Kamu gak punya bukti apapun.”