Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #21

kabar yang tersebar (Andini)

Andini mencoba berdiri di tengah rasa sakit yang terus mendera. Cucuran darah terus mengalir. Amarah dari Rayhan tidak bisa dia anggap remeh. Bocah itu tidak hanya melukainya, tapi berani membuka rahasianya di hadapan banyak orang.

“Mbak, bisa saya bantu?” tanya seorang perempuan dan Andini hanya bisa terdiam dengan tawaran itu.

“Terima kasih.” Andini tersenyum dan akhirnya bisa duduk dengan baik.

“Mbak Dini, Mbak gak apa-apa kan?” tanya Ahmad. Andini hanya terdiam dan menahan sakut yang luar biasa. Sakitnya yang mendera fisiknya sebenarnya tidak ada apa-apanya. Yang paling membuatnya sakit karena tudingan Rayhan yang semakin hari semakin buas. Dia terus menekan dengan tuduhan pelakor yang kali ini dia teriakkan di hadapan banyak orang. “Mbak, kenapa sih dari awal kamu ini sulit sekali dibilangi? Andai Mbak Dini dulu menolak tawaran gila itu, kan tidak jadi seperti ini.”

“Kamu ini kenapa sih? Aku ini kan sudah berkali-kali bilang, kalo aku juga ingin lepas dari perangkap Lelaki itu.” Andini yang kembali mendengar itu dari adiknya, sebenarnya sudah capek harus menjelaskan. Tapi, adiknya belum tau apa yang memang membuatnya sulit keluar dari perangkap Prasetyo.

“Terus, kenapa sampai sekarang gak lepas juga? Ini pertayaan Rayhan, kamu ini serius mau lepas apa enggak?” tanya Ahmad dan Adini hanya bisa menggeleng.

“Kamu ini kenapa sih? Hobi banget nanyain aku masalah itu?”

“Mbak, aku tanya itu karena aku masih peduli. Kalo aku gak peduli padamu, aku bukan hanya gak akan nanyain itu, tapi juga gak akan pernah bantu walau kamu dalam posisi seperti tadi. Aku gak akan pernah berenti menanyakan itu sebelum kau menjawabnya. Rayhan tidak akan tinggal diam. Dia akan terus ganggu kamu.” Ahmad terlihat hanya bisa menahan tangis. Andini masih emosi, tapi sebenarnya tidak pernah menginginkan hal buruk terjadi pada adiknya.

“Kamu pikir, aku ini bodoh gitu?” tanya Andini.

“Mbak, aku cuma mau ngingetin kamu. Aku begini bukan karena ingi mengatur. Tapi aku hanya ingin kamu lepas dari jeratan keluarga itu. Pak Prasetyo tidak akan pernah menepati janjinya. Bagaianapun piosisimu sudah salah.”

“Aku tau. Aku tau posisiku salah, tapi aku juga gak mau kalah.”

“Mbak Dini, kamu sadar gak sih apa yan baru kamu bicarakan?” tanya Ahmad yang mulai emosi. Andini melihat orang-orang yang ada di sekitarnya. Tatapan mereka menbuat Anduni tidak bisa berbuat apapun.

“Ahmad?”

 “Mbak, aku sudah bilang ini sebelumnya, dan aku gak akan pernah bosan ngingetin kamu. kamu hanya alat bagi Pak Prasetyo. Dia mendekati dan membantu kamu buka karena kamu penting, karena kamu hanyalah alat. Tapi, kamu sekarang sepertinya mau bilang, kalo kamu banga jadi duri di keluarga orang lain. Kalo itu mau kamu, jangan sekali-kali injakkan kakimu di rumah! Aku bahkan malu punya kakak modelan sepertimu.” Ahmad langsung pergi dan menangis.

Ahmad terlihat menjauh dari Adini. Sekali lagi, Andini didera rasa bersalah yang terus menghantui. Entah sudah keberapa kali, dia membentak adiknya yang ingin mengingatkannya.

“Ahmad.” Andini langsun pergi dan mengikuti kemna adiknya melagkah. Terlihat adiknya tidak begitu peduli dengan dirinya yang terus saja memanggil. “Ahmad, tolong berhenti! Aku ingin bicara.”

“Apa yang bisa kita bicarakan? Mbak Dini sudah gak percaya sama aku da terang-terangan bangga dengan posisimu sekarang. Mbak Dini sudah nyaman dengan statusnya. Aku sebenarnya ingin menjelaskan apa yang salah dari pikiran Rayhan. Aku yakin, kalo Mbak Dini ingin lepas dari Pak Prasetyo. Tapi, sepertinya aku yang salah. Mbak Dini sepertinya memang nyaman sama Pak Praetyo, dan gak akda keinginan untuk lepas. Aku gak akan mengatur Mbak Dini lagi.” Andini melihat air mata itu hanya bisa diam. Dia sudah melukai hati adiknya.

“Ahmad, aku minta maaf. Aku memang salah. Tapi, kumohon mengertilah. Aku punya alasan untuk melakukan ini.”

“Alasan apa lagi sih? Jangan bilang kalo alasan itu adalah kami. Aku dan Ibu gak pernah mau kamu jadi seorang pelakor seperti sekarang ini, jadi berhenti alasan jika kami adalah salah satu dari alasanmu.” Andini tidak bisa mengatakan apapun.

“Ahmad, tapi itu yang memang terjadi. Kalian yang menjadi alasanku melakukan semua ini.”

“Sudah;ah, Mbak juga gak mau ngerti. Aku gak akan berhenti mengingatkan, kalo Mbak Dini hanyalah alat dari lelaki itu.” Ahmad langsung pergi dan Andini tidak bisa berbuat apapun, dia mengikuti Ahmad dan terus menahan sakit yang luar biasa.

“Ahmad, aku minta maaf. Aku salah. Tolong aku! aku gak tau harus minta tolong ke siapa lagi.” Ahmad terlihat diam dan menatapnya.

Lihat selengkapnya