Rayhan diam di halaman rumah sambil menatap langit. Entah bagaimana nasib Andini malam ini. Apakah rencananya tadi siang berhasil? Apakah para warga yang tinggal di sekitar tempat tinggal Andini bisa ercaya dengan omongannya?
Dia bicara dengan beberapa orang yang kebetulan adalah tetangga Andini. Banyak yanb Rayhan katakan dan entah mereka bisa percaya padanya, atau tidak.
“Mas Rayhan, sudah malam. Jangan di luar! Kalo Mas Rayhan masuk angin, kami dimarahi Bapak.” Salah seorang pembantu ada di samping Rayhan dn bersiap mendrong kursi roda itu memasuki rumah. Rayhan yangb mendengar dan mengetahui apa yang ingin perempuan itu lakukan, langsun menepis tanganya dan meminta agar dia tetap dibiarkan ada di tempat ini.
“Mbok, aku gak apa-apa. Kenapa sih aku selalu saja diatur? Aku kan tadi udah bilang, aku ingin di luar bentar aja. Mama juga sudahb bilang batasnya jam Sembilan. Ini belum juga jam delapan,” omel Rayhan.
“Mas Rayhan, tapi kami takut dimarahi Bapak.”
“Aku jamin enggak. Gak ada yang bisa marahin Mbok gara-gara aku. Bilang aku yang minta dan Mama ngizinkan. Sudahlah, Mbok lanjutkan kerjaan lain. Gak usah ngatur aku terus!” omel Rayhan.
“Mas.”
“Mbok, bisa gak sih gak usah terlalu ngatur? Kalo Mbok gak bilang macam-macam juga gak akan ada yang namanya dimarahi. Lagian Papa juga pasti keluar sama pelakor itu. Gak akan pulang malam ini.” Semua orang terdiam dan para pembantu tidak bisa berbuat apapun. Seorang pembantu akhirnya tetap berada di belakang Rayhan dan membuat mood Rayhan akhirnya berubah. “Kenapa sih? Aku bukan anak kecil. Gak usah dijagain.”
“Mas, tapi Mbok cuma mau….”
“Sudahlah. Kalo Mbok mau aku masuk, aku akan masuk sekarang. Tapi janga ngikuti aku terus. Aku bukan anak kecil.”
Rayhan memilih masuk dan berniat ke kamar. Sari tampaknya mendekat dan langsung menanyakan hal yang membuat Rayhan kembali masuk.
“Rayhan, kok sudah masuk sih, Le? Kan belum jam delapan?”
“Males. Habisnya pembantu di sini cerewet semua. Masa sih aku baru saja keluar, udah diomelin. Sampai dijagain pula. Emang aku anak kecil apa.” Rayhan terus mengomel dan menatap pembantu yang ada bersamanya.
“Han, kok gitu sih? Asisten rumah kan cuma menjalankan tugas aja. Kenapa kamu bilang cerewet begitu?” tanya Sari. Mbok juga, kenapa sih kok gangu Rayhan?”
“Maaf, Bu. Tapi kami hanya melaksanakan apa yang Bapak minta.” Pembantu itu hanya bisa mengataka semua itu dan Rayha tampak emosi. “Maaf, Mas. Mbok hanya melaksanakan tugas yang Bapak berikan.”
“Rayhan, natapnya gak usah gitu dong! Masa natap orng kayak gitu sih?” tanya Sari.
“Habisnya aku diatur-atur. Masa aku disuruh masuk karena takut dimarahi Papa? Apa hubungannya coba? Papa kan gak akan pulang malam ini.”
“Rayhan, jangan begitu dong! Masa kamu bilang kalo Papa gak pulang?”
“Lagian, gak pernah Papa gak pulang sampai jak segini. Papa pasti pulang maksimal jam tujuh kan? Ini hampir setengah delapan juga belum nongol. Pasti pacaran tuh orang. Papa pasti lagi nemenin pacarnya di Villa.” Rayhan hanya mengatakan itu dan terlihat Sari hanya menggeleng.
“Han, kamu ini ngomong apa sih? Masa kamu bilang Papa pacaran?”
“Memang iya kan? Papa lagi pacaran. Papa kan punya pacar lain selain Mama. Papa sampai menyewakan apartemen kan?”
“Rayhan, jaga ucapanmu, Le!”
“Ngapain ih, aku disuruh jaga ucapan? Memang Papa bisa jaga ucapan?” tanya Rayhan yang mulai emosi.
“Han, kok kamu tambah hari tambah bandel aja.”
“Terserah Mama bilang apa. Tapi Mama jangan pura-pura tutup mata. Mama tau tentang apa yang Papa lakukan di luar sana. Dan aku gak akan pernah tinggal diam. Aku akan membuat semuanya hancur. Aku aka buat pelakor itu kena mental, apapun iu caranya.” Rayhan kembali ke kamar dan terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca mengingat apa yang terjadi.
Semalam, dia melihat Mamanya menangis dan hari ini dia sudah membuat wanita itu menangis. Rayhan hanya ingin membuat wanita itu terus menangis. Rayhan tidak pernah ingin Andini bisa terus tersenyum sementara Mamanya terus saja menangis.
“Rayhan, masa jam sgni mau tidur? Biasanya kamu gak pernah mau tidur kalo masih belum jam Sembilan.”