Andini melihat adiknya pulang dengan wajah yang sedih, tampak khawatir. Entah kenapa, hatinya mengatakan, jika ada sesuatu yang tidak beres saat melihat adiknya datang dengan wajah seperti itu. Yang dia tau, adiknya pergi dari rumah karena ingin membeli obat. Tapi, Ahmad terlihat pulang tanpa membawa satupun obat.
“Ahmad, kamu kenapa? Kamu gak apa-apa kan? Kamu tadi beli obat kan? Mana obatnya?” tanya Andini. Terlihat Ahmad hanya bisa menatap kakaknya dengan air mata yang terus bercucuran.
“Mbak, aku dari rumah Pak Prasetyo. Aku kesana karena ingin menagih ucapannya saat dia datang ke sini pertam kali.” Andini hanya bisa terbelalak dan tidak menyangka kalo adiknya punya keberanian menuju tempat itu.
“Mau apa kamu kesana? Kamu bikin ulah di rumah itu?” tanya Andini. Terlihat jelas, jika Ahmad hanya bisa terdiam beberapa saat. “Ahmad, tolong jawab pertanyaanku! Kenapa kamu kesana? Kamu jangan pernah bilang kalo bikin ribut di rumah itu. Kalo keluarga kita sampai kenapa-napa, aku juga yang kena.”
“Mbak, aku cuma mau nagih janji Pak Prasetyo. Aku masih ingat apa yang dia janjikan sama kamu. Aku kesana hanya untuk menagih janji. Aku mau, dia menepati ucapan yang pernah dia katakan pada kita.” Ahmad menjelaskan semua itu dan Andini hanya bisa diam. Bukan karena dia kecewa, tapi karena dia takut. Dalam hatinya, dia memang sangat menantikan janji yang pernah Prasetyo ucapkan saat itu, tapi entah kenapa dia juga merasa takut jika adiknya sampai kenapa-napa.
“Ahmad, tapi gak harus kamu juga yang kesana. Kalo kamu kenapa-napa bagaimana? Kmu kan tau, Pak Prasetyo itu siapa. Dia punya bekingan.”
“Kenapa sih Mbak? Aku kan cuma mau mengingatkan aja. Bagaimanapun, dia tetaplah suami kamu dan aku cuma ingin dia menepati janjinya.” Andini langsung terdiam dan Ahmad kembali meneruskan apa yang ingin dia sampaikan. “Mbak, aku sudah bilang kalo Lelaki itu gak akan pernah mau menikahi kamu secara sah. Bagaimanapun, dia akan tetap memilih Bu Sari dan anaknya. Kita hanya jadi alat dan kamu sendiri juga akan jadi alat, untuk kepentingannya.”
Andini hanya bisa diam dan termenung mendengar apa yang baru saja dikatakan adiknya. Sebenarnya dia sudah tau semua tentang hal itu. Dia sudah menduga apa yang akan terjadi. Semua akan jadi seperti ini. Hanya saja, ada sesuatu yang membuatnya tudak bisa lepas begitu saja dari Lelaki itu. Semua biaya yang dibutuhkannya juga kedua orang yang dia sayangi, membuatnya tidak bisa lepas dari Prasetyo.
“Mbak Dini?” tanya Ahmad.
“Ahmad, aku gak tau harus bilang apa sama kamu. Aku masih belum bisa menjawab pertanyaanmu. Jujur saja, aku masih sulit menjawab pertanyaan itu dan masih belum bisa lepas dari Lelaki itu. Aku tau, aku hanya jadi alat buat dia. Tapi, gak tau kenapa, dia seperti punya sesuatu yang membuatku gak berdaya. Ahmad, aku sama sekali gak berdaya dengan semua ini.” Andini hanya bisa meneteskan air mata. Entah bagaimana dia menjelaskan apa yang sebenarnya dia hadapi. Dia juga tidak mampu memberikan kepercayaan pada adiknya agar tau apa yan sebenarnya dia hadapi.
“Mbak, masalah kenapa kamu tidak bisa lepas dari Pak Prasetyo, aku akan selalu menunggu jawaban itu. Aku masih ingin mendengar, apa kamu memang ingin lepas atau ingin bertahan. Kalo memang ingi lepas, aku akan bantu kamu. Kalo kamu memang ingin bertahan, itu terserah kamu.” Ahmad terlihat masih saja peduli walaupun sudah sangat capek.
“Ahmad, aku tau kamu kecewa. Aku tau kamu marah sama aku. Tapi, aku mohon, mengertilah kondisiku.”
“Bagaimana aku bisa mengerti kondisimu, kalo kamu saja gak terbuka sama aku. Aku gak tau apa yang jadi alasanmu untuk melakukan hal seperti ini.” Ahmad hanya memandang Andini dengan air mata.
“Ahmad, aku hanya butuh waktu.”
“Butuh waktu sampai kapan? Ini sudah lama. Ini sudah berjalan 18 bulan. Kalo aku harus menunggu, berapa lama lagi aku harus menunggu?”
“Aku tau kamu kecewa. Tapi aku memang butuh waktu. Aku butub waktu untuk menyelesaikan semuanya.” Andini hanya bisa menatap adiknya yang masih setia ada di sampingnya.