Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #24

dokumen pembayaran (Rayhan)

“Bu Dini, saya tau kalo Ibu punya rahasia. Saya akan terus mengganggu Ibu,” ancam Rayhan yang melihat Andini mulai menjauhinya. Rayhan terus saja diam dan mengarahkan kursi rodanya mengikuti kemana Andini pergi.

“Han, kamu ngapain sih? Kenapa kamu ngikutin Ibu?” tanya Andini yang terlihat terganggu dengan kehadiran dirinya di belakang.

“Kenapa? Saya kan sudah janji sama Papa.”

“Janji apa? Kalian sekongkol ya untuk menekanku?” tanya Andini yang terlihat mulai emosi.

“Memangnya, Bu Dini ini siapa? Ibu pikir, posisi Ibu pentinb di tempat Papa?” tanya Rayhan.

“Rayhan, berhenti mengikuti Ibu. Ibu gak akan ganggu kamu lagi.”

“Serius?” tanya Rayhan.

“Ibu serius. Ibu akan oergi dari hidupmu. Ibu gak akan ganggu kamu lagi.” Andini mulai menangis dan Rayhan hanya bisa tersenyum.

“Kalo Ibu gak mau ganggu saya, Ibu harusnya pergi dari hidup Papa dan gak pernah menjadi istri simpanan Papa. Selama Ibu belum pergi, saya gak akan biarkan Ibu bisa tenang.”

“Rayhan, kamu kenapa jadi seperti ini?” tanya Andini yang sepertinya mulai frustasi dengan ulahnya.

“Ibu sendiri kenapa jadi pelakor? Ibu bangga jadi pelakor?”

“Rayhan, aku tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Berarti, Ibu ini seperti apa? Saya tanya, Ibu seperti apa memangnya? Saya kenal Ibu sebaga pelakor.” Rayhan semakin menekan Andini dan Andini hanya bisa menangis melihat Rayhan semakin menjadi-jadi.

“Sudahah, gak ada gunanya ngomong sama kamu.”

“Ibu juga. Apa-apa marah. Ibu juga gak mau ngomong apapun. Ibu bilang mau lepas dari Papa, tapi sampai sekarang Ibu belum lepas juga. Ibu ini mau lepas dari Papa apa enggak sih?” tanya Rayhan. Andini langsung saja pergi meninggalkan Rayhan seorang diri.

Rayhan hanya terdiam melihat Andini yang menjauh. Tampak dari kejauhan, Andini menangis dan ditemani Ahmad. Ahmad tampak memandanginya dari kejauhan dan tidak lama, lelaki itu menghampirinya.

“Rayhan.”

“Mau apa, kamu? Masih mau bela Mbak kamu itu? Mbak kamu bahkan gak menjelaskan apa-apa. Mbak kau gak bisa membuktikan kalo tuduhanku salah. Dia hanya bilang tuduhanku salah tapi gak mau jelaskan kenaa tuduhanku bisa salah.” Rayhan menatap Ahmad yang hanya bisa diam. “Kamu juga mau apa di sini? Kalo mau membela Mbak kamu, mending gak usah ada di sini.”

Rayhan akhirnya pergi. Terlihat, Ahmad yang masih ingin bicara dan terus mengikuti Rayhan. Rayhan terdiam melihat lelaki itu yang mengikuti kemana dia pergi.

“Rayhan, tapi aku mau bilang sesuatu. Semua prasangka kamu pada Mbak Dini, ada yang salah. Tidak semuanya benar.”

“Katakan padaku! Apa yang benar dan apa yang salah.” Rayhan menatap lelaki itu dan tampak Ahmad hanya diam. “Kenapa hanya diam? Kamu bilang kalo aku tidak sepenuhnya benar. Tapi waku aku ingin tau apa yang benar, kamu hanya diam.”

Lihat selengkapnya