Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #25

dipanggil kepala sekolah (Andini)

Andini terdiam dengan apa yang baru Rayhan lakukan. Rayhan sengaja mempermalukannya secara terselubung di hadapan semua guru yang ada di ruangan ini. Andini bahkan tidak bisa marah atau menegur Rayhan kali ini, karena pasti dia bakal kena jika meluapkan semua itu.

“Rayhan, kenapa kamu jadi seperti ini? Selama beberapa bulan aku jadi wali kelasmu, kamu bahkan tidak pernah berkata kasar apaagi membangkang seperti yang baru kamu lakukan. tapi sekarang kamu bahkn berani mempermalukanku di hadapan banyak orang,” batin Andini yang tidak sadar meneteskan air mata. Lama sekali Andini terdiam hingga salah seorang guru mendekatinya.

“Bu Dini? Ad apa? Bu Dini gak apa-apa kan?” tanya salah seorang guru.

“Gak apa-apa, Bu.” Andini memberi senyum pada wanita yang ada di sampingnya.

“Kok sepertinya gugup saat tadi bertemu Rayhan? Ada masalah kah sama Rayhan?”

“Gak ada kok, Bu. Gak ada masalah apapun diantara kami.”

“Oh iya, ngomong-ngomong sudah sampai mana persiapan Rayhan ikut olimpiadenya? Rayhan ini ikut olimpiade matematika kan dan Bu Dini yang bimbing dia kan?” tanya guru itu dan Andini langsung diam dan bingung harus menjawab apa. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena Rayhan secara terang-terangan tidak ingin ikut olimpiade jika masih dibimbing olehnya. “Bu Dini?”

“Eh, masalah itu. Masih belum sama sekali. Gak tau kenapa, Rayha sulit sekali jika diajak kerjasama masalah ini.”

“Lho, katanya gak ada apa-apa? Kok olimpiadenya belum ada persiapan sama sekali?”

“Iya, memang seperti itu. Kami belum ada persiapan apapun.” Andini mau tidak mau mengatakan semua itu.

“Kalo ada masalah, bilang dong! Biar segera dibantu sama rekan kerja. Kalo memang butuh, bisa ditangani sama Pimpinan sekolah. Ini pimpinan sudah berkali-kali minta laporan persiapan siswa yang ikut olimpiade, dan Bu Dini belum memberi laporan masalah progres Rayhan. Kepala sekolah sudah mulai curiga kalo Bu Dini punya masalah sama Rayhan, karena Bu Dini belum melaporkan apapun sejak awal. Bu, tolong laporkan apa yang terjadi sama Kepala Sekolah, biar ketemu jalan keluar dari masalah itu.” Andini terdiam beberapa saat.

“Iya. Saya minta maaf. Saya akan coba bicara lagi sama Rayhan.” Andini terdiam dan dia tidak bisa mengatakan apapun. Dia harus segera bicara sama Rayhan terkait masalah ini. Dia terdiam beberapa waktu sampai akhirnya ada seorang guru lain yang mendekatinya.

“Bu Dini, ada pesan dari Kepala Sekolah. Nanti setelah selesai jam terakhir, diminta menghadap Beliau. Oh iya, Ibu juga diminta menghadap bareng Rayhan.” Salah seorang guru langsung menampaikan pesan itu dan Andini hanya bisa tersenyum.

***

“Rayhan, kita diminta menghadap Kepala Sekolah sekarang.” Andini mengatakan itu langsung pada Rayhan dan Rayhan hanya diam.

“Saya gak mau. Saya mau pulang aja.” Rayhan berkelit dan sepertinya memang sudah tida ingin bicara dengannya saat berdua seperti ini. Tapi, Andini yakin dia tidak seperti itu. Dia yakin Rayhan masih ada perlu sama dirinya mengingat apa yang terjadi.

“Rayhan, jangan egois! Kepala Sekolah meminta kita berdua menemui beliau.”

“Bisa gak sih gak maksa? Pasti Ibu yang bilang aneh-aneh kan ke Bapak Kepala Sekolah?” tanya rayhan yang terlihat mulai emosi.

Lihat selengkapnya