Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #26

Papa gak sayang lagi (Rayhan)

Rayhan meninggalkan Andini dengan air mata yang terus mengalir. Dia bukan tidak mau mengikuti olimpiade itu. Dia ingin mengikuti kejuaraan iti. Hanya saja, kali ini dia ingin membuktikan kalo dirinya tidak akan bisa diatur siapapun dan tidak akan tunduk pada orang yang sudah membuat Mamanya menangis.

Dia mengambil ranselnya yang dia titipkan di pos satpam dan meminta sopir yang sudah menunggunya untuk segera pulang. Rayhan tidak pernah mau berurusan dengan Andini.

“Mas Rayhan, Mas gak apa-apa kan?” tanya sopir.

“Sudahlah, Pak Tarjo. Ayo pulang. Ini sudah sore. Mama pasti sudah menunggu di rumah.” Rayhan emosin dengan pertanyaan yang baru dia dengar.

“Mas Rayhan, tapi Mas beneran gak apa-apa kan? Kalo Bapak gak bisa jawab kenapa Mas seperti ini, Bapak kena marah.”

“Sudahlah, Pak Tarjo! Gak usah tanya-tanya terus. Siapa sih yang mau marahin Pak Tarjo?” tanya Rayhan dan lelaki itu langsung diam. Mobil akhirnya melaju membelah jalanan dan tidak butuh waktu lama, mereka sampai di rumah. Rayhan memilih langsung menuju kamar dan menangis di ruangan itu. Memang, baru kali ini dia melakukan hal itu dan menurutnya, semua tindakan itu benar.

“Kenapa harus Bu Dini? Kenapa harus pelakor? Kalo saja dia bukan pelakor, aku gak akan seperti ini.” Rayhan meremas kertas pemberian Andini saat pelajarn dan melemparnya ke tempat sampah. Rayhan tidak ingin menerima apapun yang jadi pemberian Andini. Pemberian itu hanya menjadi olokan. Pemberian itu hanyalah olokan yang dia terima dari Andini bagi tubuhnya yang cacat. “Bu Dini, kau ingin mengolo-olok kondisiku? Aku gak akan terima. Aku bukan anak yang kau pikirkan. Aku tidak akan pernah mau kalah sama pelakor sepertimu.”

Rayhan terdiam beberapa saat dan tidak lama, Sari menengoknya. Rayhan hanya bisa diam dan pura-pura baik-baik saja. tetapi, Sari rupanya tau jika dirinya punya masalah.

“Rayhan, ada masalah apa? Kenapa kamu jadi seperti ini?” tanya Sari. Rayhan menggeleng dan Sari hanya bisa memandanginya.

“Aku gak apa-apa.”

“Serius gak apa-apa?”

“Kenapa sih, Ma? Aku lho gak apa-apa.”

“Mama gak bisa dibohongi. Mama tau kalo kamu menyembunyikan sesuatu. Kamu biasanya pulang langsunb ketemu sama Mama. Sekarang, kenapa malah langsung masuk kamar?” tanya Sari dan Rayhan hanya bisa menggeleng.

“Mama, aku gak apa-apa kok. Kenapa sih Mama sepert ini?” tanya Rayhan.

“Rayhan, mama tau kalo kamu lagi punya masalah. Mama tau kamu beberapa hari belakangan serin nangis dan beberapa kali Mama lihat kamu mengacak-acak ruang kerja Papa. Kamu kenapa sih? Kalo ada masalah, bilang sama mama. Bukan menyelesaikan semuanya sendiri.”

“Mama, aku cuma ingin menyelesaikannya sendiri. Aku bisa menyelesaikannya sendiri kok.” Rayhan menatap Sari dengan mata yang berkaca-kaca.

“Han, kamu ini masih 13 tahun.”

“Kenapa memangnya kalo aku masihb 13 tahun? Aku gak bisa gitu? Aku bisa kok. Aku bisa melakukan ini sendiri. Aku bisa menyelesaikan masalah ini sendiri.”

Lihat selengkapnya