Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #27

berseteru (Prasetyo)

Prasetyo terdiam mendengar apa yang baru anaknya ucapkan. Andini, mengatakan semua itu? Dia serius mengatakan semua itu pada Rayhan? Entah apa yang harus dia lakukan kali ini. Ucapanya beberapa bulan yang lalu, membuatnya berada di posisi sulit untuk sekarang ini.

“Sari, bagaimana kondisi Rayhan? Dia gak apa-apa kan?” tanya Prasetyo. Terlihat, sang istri hanya bisa menahan air mata.

“Aku gak bisa bilang dia baik-baik saja.” Sari tampak menahan air mata dan tiak mampu meneruskan apa yang ingin dia katakan.

“Sari, tolong bilang apa yang ingin kau katakan!” pinta Prasetyo.

“Mas, kau benar-benar mau meninggalkan kami? Apa yang Rayhan katakan, itu benar? Rayhan hanya halusinasi saja kan?” tanya Sari dan Prasetyo hanya bisa menangis. Dia merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi.

“Sari, aku tidak bisa mengatakan semuanya. Aku tau semuanya salah. Tapi, semua ini memang pernah aku ucapkan.” Sari terlihat hanya bisa terdiam dan terus meneteskan air mata.

“Aku harus cek kondisi mental Rayhan ke Psikiater. Dia tidak bisa aku katakan baik-baik saja. Aku sudah mengamatinya beberapa hari terakhir. Dia memang tidak terlihat seperti biasa. Rayha seperti bocah bingung dan emosinya mudah meledak.” Prasetyo hanya bisa diam dan menatap kamar Rayhan yang tertutup.

“Sari.”

“Mas, aku hanya takut kalo dia kenapa-napa. Aku gak mau anak kita sampai gila gara-gara masalah yang sudah kau timbulkan.”

“Sari, aku akan beri Andini pelajaran. Aku akan buat dia menanggung apa yang sudah dia perbuat.”

“Terserah kamu. Aku tidak akan ikut campur urusan kalian. Aku hanya menyesali semua yang sudah terjadi. Mungkin, aku sudah gagal jadi ibu yang baik buat anakku.” Sari pergi dan membiarkan Prasetyo sendirian.

“Sari, aku berharap kamu mau mengerti.”

“Mas, jangan pernah berpikir kalo Rayhan ini anak bodoh. Dia melakukan tindakan yang kurang ajar, karena dia sudah tau apa yang jadi kebenarannya. Aku tau, dia belum punya bukti yang kuat untuk tau apa yanb terjadi diantara kalian. Tapi, janga pernah berpikir kalo dia gak tau. Itu yang berbahaya buat dia. Ulahnya selama ini bukan ulah anak nakal. Aku melihatnya sebagai ulah seorang anak yanb mempertahankan dirinya.”

“Sari, tapi kumohon jangan sampai banyak orang tau. Aku mohon, atur semuanya. Aku ingin dia dapat yang terbaik.”

“Itu sudah jadi tanggung jawabku. Aku harap, selesaikan masalahmu dengan Andini, sebelum Rayhan melakukan hal yang sama sekali gak bisa kita duga. Aku juga akan mencegah Rayhan untuk melakukan gak yang tidak bisa diprediksi.”

Prasetyo diam. Terlihat Sari membuka pintu kamar, dan Prasetyo bisa memandang Rayhan yang tengah melamun. Prasetyo tidak bisa berbuat banyak melihat anaknya yang kondisinya sudah seperti itu.

***

“Mama, ini mau kemana sih? Hari ini bukan waktunya terapi. Aku gak mau ke Dokter. Capek harus terapi. Bisa gak sih aku istirahat aja? Aku mau istirahat.” Prasetyo yang tengah berada di ruang kerjanya, mendengar suara Rayhan yang sudah emosi.

“Rayhan, kita cuma ke Dokter aja. Kita cek kondisimu seperti apa. Kita sama sekali gak terapi.”

Lihat selengkapnya