Andini hanya diam setelah diminta masuk oleh Ahmad. Dia tidak menyangka jika Prasetyo akan melakukan itu di hadapan banyak orang.
“Mbak Dini, gak apa-apa kan?” tanya Ahmad dan Andini hanya bisa terdiam dan terus meneteskan air mata. “Aku tau kalo kali ini kamu lagi gak baik.”
“Ahmad, aku gak tau harus bagaimana lagi. Semuanya sudah di luar kendali. Aku gak au harus ngapain setelah ini. Setelah hari ini, pasti gak akan mudah.” Andini hanya bisa meneteskan air mata.
“Mbak Dini pasti sakit hati. Aku juga sakit hati, Mbak.” Ahmad terlihat hanya bisa meneteskan air mata dan menenangkannya.
“Bagaimana aku gak sakit hati? Aku dihina di hadapan banyak orang. Aku dipermalukan oleh suamiku sendiri. Ini lebihb sakit. Aku pikir, hanya Rayhan yang sudah mempermalukanku di hardapan umum. Ternyata enggak. Papanya juga melakukan hal yang sama. Orang yang menjanjikan hidup kita lebih baik juga melakuka hal yang sama. Aku dihina di hadapan banyak orang.” Andini memeluk adiknya dan langsung menangis.
“Mbak, aku tau apa yang kamu rasakan. Ini semua memang gak mudah buatmu. Ini memang gak mudah untuk kita lalui. Tapi, kamu yang ingin seperti ini,” ucap Ahmad dan Andini hanya bisa meneteskan air mata. “Maaf kalo aku menambah beban di hatimu. Tapi semuanya memang dari ulahmu sendiri. Tapi, bagaimanapun kamu, aku gak akan biarkan kamu sendirian. Aku gak akan pernah biarkan kamu sendirian menghadapi semua ini.”
“Aku tau, Ahmad. Aku menyadari kesalahan itu. Aku memang menerima tawaran itu. Aku sudah bodoh menerima tawaran Lelaki itu. Aku sudah bodoh dan gak tau lagi harus ngapain. Aku kenapa bisa sebodoh itu?”
“Mbak, tapi aku mau tanya satu hal. Kau mengatakan itu sama Rayhan?” tanya Ahmad dan Andini terdiam beberapa saat.
“Ahmad, aku tidak pernah mengatakan semua itu pada siapapun, termasuk Rayhan. Malah, Rayhan yang mengatakan itu di hadapan banyak orang, entah darimana sumbernya. Tapi, semua yang dikatakan Rayhan memang benar dan itu pernah dijanjikan pada kita. Mas Prasetyo pernah menjanjikan hal itu di hadapanku. Apa kau masih ingat pembicaraan kita waktu pernikahan rahasia itu?” tanya Andini.
“Jelas masih ingat. Aku masih ingat semuanya.”
“Saat itu aku dijanjikan semuanya. Aku dan Mas Prasetyo bahkan menandatangani dokumen yang pernah aku tunjukan padamu. Itu yang jadi alat buat mereka. Rayhan menginginkan dokumen ini, dan aku masih membutuhkan dokumen ini. Aku tidak ingin Lelaki itu meninggalkan kita tanpa alasan yang jelas.”
“Mbak, aku cuma mau bilang, tolong akhiri semua ini! Semuanya gak akan ada gunanya buat kamu. Mbak Dini berhak punya hidup yang lebih baik dan aku juga ingin melihat Mbak Dini punya hidup yang lebih terjamin dari sekarang ini.” Ahmad terlihat meneteskan air mata dan Andini hanya bisa diam melihat wajah adiknya yang sudah basah. “Aku tidak bisa melihatmu diperlakukan seperti ini. Aku memang adik kamu, tapi aku tidak bisa melihat Mbak Dini diperlakukan seperti barusan. Itu sama sekali tidak manusiawi. Mereka gak tau apa yang terjadi. Tetangga gak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga kita, tapi mereka yang bisa seenaknya menyebar kabar yang sama sekali gak benar.”
“Ahmad, jangan menangis seperti ini! Aku tau mungkin kau ingin membantu. Tapi, kita gak bisa berbuat banyak. Aku bahkan gak berdaya.” Andini menghapus air mata adiknya dan tidak mau jika adiknya terus terbebani dengan masalah yang tengah dia hadapi. “Ahmad, kamu harusnya bisa menikmati mas sekolahmu. Kamu harusnya bisa main dan belajar sama teman-teman kamu di luar sana. Kamu tidak harus seperi ini.”
“Mbak, aku cuma mau kamu lepas dari Lelaki itu dan hidup seperti sebelumnya. Aku akan berjuang untukmu dan Ibu. Aku akan cari kerja apapun untuk kalian. Aku gak apa-apa kehilangan waktu bermain sama teman-temanku, daripada harus kehilangan kalian. Aku gak mau Mbak Dini berjuang sendiri.” Andini hanya bisa diam mendengar apa yang baru Ahmad ucapkan.
“Ahmad, bertahanlah sebentar saja ya. Aku akan mengakhiri semua ini sebentar lagi. Aku janji, akan mengakhiri semuanya. Aku gak bisa melihatmu terus seperti ini.” Andini memegang tangan adiknya yang juga menatapnya.
“Mbak, aku tau ini gak mudah, tapi entah apa yang akan terjadi setelah kejadian barusan. Aku yakin tetangga sudah mengatakan hal yang gak enak terkait Mbak Dini.”
“Ahmad, masalah itu aku gak bisa berbuat apapun. Aku gak tau apa yang akan terjadi setelah ini.” Andini hanya bisa diam.
Tidak lama, pintu digedor dan Andini hanya bisa terdiam. Ditemani Ahmad, Andini akhirnya membuka pintu dan terlihat warga sudah berkumpul di rumah mereka.
“Maaf, ada apa ini?” tanya Ahmad yang bingung dengan warga yang sudah berkumpul di halaman rumah. “Kebapa Njenengan semua ada di rumah kami?”
“Gak usah sok gak tau. Kami tau apa yang sebenarnya kalian sembunyikan. Kami tau kalo Andini ini adalah perempuan gak bener.” Andini tidak bisa mengatakan apapun mendengar warga yang mulai mencecarnya dengan berbagai macam kata-kata yang menyakitkan.
“Kami lihat dan mendengar pertengkaran kalian dengan pengusaha itu. Kami tau semua yang kalian sembunyikan. Kamu tidak bisa mengelak sekarang.”
“Andini, ngaku saja kamu! Kamu simpanan pengusaha kan? Kamu ini wanita simpanan orang kaya kan?”
“Orang yang jadi pacar kamu juga punya jabatan. Ngaku saja kalo kamu ini perempuan gak bener.”
Apa yang dikatakan warga membuat Andini hanya bisa menangis. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan para warga karena kondisinya sudah terdesak dan tidak tau harus berbuat apa.
“Dia cuma nangis. Dia gak bisa jawab, karena da memang perempuan gak bener.” Seorang warga mencoba menjambak rambut Andini, Tapi Ahmad berhasil menggagalkan dan meghalangi kejadian itu.