“Rayhan, kamu serius gak apa- apa kan?” tanya Alvin. Rayhan menggeleng dan menatap Alvin dengan tatapan penasaran. Rayhan tidak ingin ada orang yang tau apa yang tengah dia hadapi.
“Kenapa sih pada tanya seperti itu? Aku gak apa-apa kok.” Rayhan sangat emosi dengan pertanyaan Alvin hari ini. Entah sudah keberapa kali dia mendengar pertanyaan itu. Entah dari Mamanya, asisten rumahnya, hingga teman dekatnya.
“Rayhan, kamu sepertinya kelihatan memang gak baik-baik saja. Kamu beberapa hari ini kelihatan banget kalo lagi capek, dan seperti gelisah.” Apa yang Alvin katakan membuat Rayhan hanya bisa diam. Entah bagaimana dia menjelaskan apa yang dia alami sekarang ini. Semua ini akibat ulah dari perempuan hina seperti Andini. “Rayhan, kamu masih kepikiran masalah Bu Dini?”
“Memangnya kenapa? Dia kan sudah membuat hidup kami berantakan. Dia yang bertanggung jawab dengan apa yang kami alami. Bu Dini harus bertanggung jawab dengan air mata yang keluar dan membuat wajah Mama basah.” Rayhan tidak bisa terima kalo dirinya disalahkan begitu saja.
“Rayhan, aku bukannya mau menasehati atau sejenisnya sama kamu. Cuma, aku lihat kamu yang terlalu memikirkan dan terlalu berambisi untuk menghancurkan hidup Bu Dini,” ucap Alvin.
“Kenapa sih? Wajar kan kalo aku mau menghancurkan hidupnya? Bu Dini sudah membuat kami seperti ini, dan Papa juga sudah janji akan meninggalkan kami demi dia. Lalu, apa aku salah kalo ingin perempuan itu hancur?” tanya Rayhan yang emosinya sudah meledak.
“Rayhan, aku sama sekali gak bermaksud ikut campur atau melarang. Ini masalahmu dengan Bu Dini. Tapi, sepertinya kamu sudah keterlaluan. Aku tau kalo kamu sudah mempermalukan Bu Dini di hadapan banyak orang.”
“Dia juga keterlaluan. Kau pikir dia gak keterlaluan gitu?” tanya Rayhan.
“Rayhan, bukan seperti itu. Aku tau Bu Dini juga sudah keterlaluan. Tapi, kamu sampai ngasih kabar palsu ke dua orang itu. Itu gak perlu.” Alvin terlihat khawatir dengan apa yang akan Rayhan lakukan.
“Males ah ngomong sama kamu. Kamu gak bakal ngerti.” Rayhan akhirnya pergi dan Alvin tidak bisa berbuat banyak.
“Han, aku minta maaf sebelunya. Tapi kamu mau menmbuat hubungan mereka retak.”
“Iya, karena aku ingin itu. Aku ingin mereka pisah. Aku ingin mereka gak akan pernah bersatu. Kalo Bu Dini ingin Papa meninggalkan kami, aku juga ingin Bu Dini ditinggalkan sama Papa.” Alvin terlihat hanya bisa diam mendengar apa yang Rayhan katakan.
***
Rayhan terdiam di halaman sekolah dan entah kenapa, hari ini terasa berjalan begitu lama. Da hanya menatap formulir olimpiade yang sama sekali belum dia isi. Formulir itu sebenarnya dia terima saat Bu Warsi memanggilnya untuk memintanya mengikuti olimpiade. Dia sudah mantap untuk mengembalikan formulir itu tanpa mengisinya sama sekali. Perlahan, da menggerakkan kursi roda itu ke ruang guru dan terlihat ada seorang guru yang tengah membereskan buku absen.
“Rayhan, ada perlu apa, Nak?” tanya seorang guru yang kebetulan sedang berjaga.
“Saya mau mengembalikan formulir ini.” Rayhan menyerahkan lembar kertas itu dan Lelaki yang ada di hadapannya hanya bisa terheran.
“Rayhan, kenapa kosong? Diisi ya! Kalo sudah terisi semua, bisa dikembalikan ke guru pendampingnya masing-masing.” Lelaki itu tersenyum dan Rayhan terdiam beberapa saat. Tidak lama, beberapa guru lewat dan sepertinya memang mau pulang.
“Ada apa ini?” tanya salah seorang guru.
“Inilho, Rayhan. Dia mau mengembalikan formulir pendaftaran olimpiade. Tapi dia belum isi.” Rayhan yang mendengar itu semua, tidak bisa diam begitu lama. Dia harus menjelaskan kenaa formulir itu tidak diisi.