Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #30

mengadu (Rayhan)

Rayhan menghapus air mata Sari dan tidak pernah ingin melihat air mata itu keluar sampai kapanpun.

“Mama kenapa? Mama kok nangis?” tanya Rayhan.

“Gak apa-apa kok, Le. Mama cuma menyesali langkah Mama yang salah. Sekali lagi, Mama minta maaf.”

“Memangnya, Mama salah apa?” tanya Rayhan dan Sari hanya bisa tersenyum. Rayhan hanya bisa diam dan menanti jawaban dari Sari.

“Bu Sari, udah sampai,” ucap sopir dan mereka tersadar jika sudah sampai di halaman rumah.

“Han, kamu istirahat dulu ya. Sebentar lagi Mama siapkan makanan dan obatnya.”

“Mama, kenapa sih? Mama tadi belum jawab pertanyaanku,” protes Rayhan.

“Nanti saja mama cerita. Sekarang, kamu lebih baik istirahat dulu ya. Ada PR gak?”

“Gak ada.” Rayhan terdiam dan akhirnya menuju kamar pribadinya. Rayhan terus diam dan tidak melakukan hal apapun. Dia menatap foto keluarga yang terpajang. Melihat foto itu, hatinya begitu panas. Entah kenapa, foto itu adalah olok-olok baginya. Senyuman sang Papa di foto itu adalah olokan baginya yang cacat. Selama ini, Rayhan dituntut sempurna. Kondisi fisik Rayhab menjadi sesuatu yang ditukar dengan hal lain.

“Han, kamu gak apa-apa?” tanya Sari.

“Gak apa-apa.”

“Serius kamu gak apa-apa?”

“Aku beneran kok. Aku gak apa-apa.” Rayhan hanya diam setelah mengatakan hal itu.

“Kamu baru nangis? Wajah kamu kok basah?” tanya Sari dan Rayhan hanya bisa diam. Rayhan mencoba tersenyum.

“Gak apa-apa.”

“Ya sudah, ayo makan. Keburu makanannya dingin.” Rayhan mengikuti langkah Sari.

***

“Rayhan.” Prasetyo kali ini datang dengan amarah yang meledak. Semua orang yang ada di rumah, termasuk Sari kaget dengan amarah dari lelaki itu. “Kamu mundur dari olimpiade? Kamu gak mau ikut olimpiade?”

“Iya. Aku gak mau ikut olimpiade itu. Aku mundur, karena Bu Dini gak sepintar yang aku kira selama ini.” Rayhan mengatakan itu dan terlihat Prasetyo hanya bisa diam. “Kenapa? Papa mau maksa aku? Papa mau maksa aku ikut olimpiade dan terus dibimbing sama orang yang mau membuat Papa pergi dari rumah ini?”

“Rayhan,” bentak Prasetyo.

“Terserah Papa mau berbuat apa. Tapi aku gak mau. Aku gak akan ikut olimpiade itu sampai kapanpun.” Rayhan langsung pergi dan menutup pintu.

“Rayhan, dengerin Papa dulu,” teriak Prasetyo dari luar kamar. Rayhan hanya diam dan menangis di kamarnya. Dia menggeleng dan tidak akan pernah mengikuti olimpiade itu selama pembinbignya adalah Andini. “Rayhan.”

Lihat selengkapnya