Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #31

kenapa Mama masih bertahan? (Rayhan)

Rayhan diam beberapa jam di kamarmya. Dia menantikan kehadiran Nenek atau Mamanya di kamar itu. Hatinya tidak bisa tenang dengan apa yang terjadi. Hampir dua jam Rayhan diam dan tidal disadari, tubuhnya semakin lemah. Dia pusing dan tidak sangup untuk bergerak terlalu lama. Rayhan akhirnya berbaring dan tubuhnya menggigil.

“Rayhan.” Nyonya Besar memasuki kamar dan melihatnya yang sedang berbaring di ranjang. Rayhan hanya bisa senyum melihat perempuan itu memasuki kamarnya.

“Nenek,” ucap Rayhan dengan suara yang lemas.

“Le, kamu gak apa-apa?” tanya Nyonya besar dan Rayhan hanya bisa terdiam. Wanita itu mendekat dan nemeriksa kondisi tubuh Rayhan dan menggeleng. “Kamu sakit?”

“Aku cuma sedikit pening.”

“Suhu badanmu cukup tinggi. Sepertinya kamu demam.” Rayhan tidak bicara apapun. Terlihat nyonya Besar memanggil kedua orang tuanya dan seorang asisten. “Sementara berikan ramuan ini. Kalo besok suhu tubuhnya belum turun juga, bisa periksakan ke Dokter keluarga.”

Rayha terdiam dan tidak banyak bicara malam ini. Dia memilih istirahat dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

***

“Sari.” Terlihat Prasetyo mendekati mereka dan Rayhan sama sekali tidak menoleh.

“Mas, Rayhan akan aku bawa ke Dokter keluarga seperti saran Ibu semalam. Suhu tubuhnya gak turun. Aku akan periksa dia biar tau apa penyebabnya.” Sari mendorong kursi roda Rayhan ke halaman rumah dan terlihat Prasetyo mengikutinya. Rayhan hanya diam mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. Sari hanya ingin dirinya mendapat perawatan yang maksimal.

“Sari, aku akan antar kalian.”

“Gak usah. Mending Mas urus saja kerjaan yang banyak itu. Apalagi, ada janji yang harus kamu tepati kan? Masalah Rayhan, aku yang akan urus dia.” Rayhan yang mendengar apa yang dikatakan Mamanya, langsung menoleh. Dia yakin jika Sari mengetahui informasi tentang Andini. Dia tau kalo Sari bertahan di tengah rasa sakit hati yang selama ini dia sembunyikan.

“Mama.” Rayhan meanggil Sari yang terlihat sedang meneteskan air mata.

“Rayhan, ayo. Kita hari ini harus periksa. Kita harus tau apa yang sebenarnya terjadi sama kami.” Sari langsung mendorong kursi roda itu menuju mobil yang sudah siap.

Selama perjalanan hingga sampai di tempat praktek dokter, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari Rayhan. Rayhan hanya terdiam dan mengawasi sekitar.

Sampai akhirnya Rayhan harus memasuki ruang dokter dan melakukan pemeriksaan. Dokter hanya diam setelah memeriksa kondisi Rayhan dan menarik napas panjang.

“Dok, anak saya kenapa?” tanya Sari.

“Bu Sari, anak Ibu sebenarnya gak apa-apa. Ini hanya demam biasa.” Dokter itu tersenyum dan menatap Rayhan dengan air mata yang menetes.

Lihat selengkapnya