Andini menatap Prasetyo yang terlihat sangat emosi. Kedatangan dirinya ke rumah ini rupanya sudah membuat masalah bagi Prasetyo.
“Mas, aku cuma mau nengok Rayhan, gak lebih dari itu kok. Kenapa sih, kamu malah marah dan mengusirku? Apa aku gak boleh nengok muridku sendiri? Bagaimanapun Rayhan itu tetap muridku.”
“Setelah apa yang kau lakukan pada anakku, kau mau menengoknya dan masih menganggap dia sebagai muridmu? Kau sudah membuat dia seperti ini dan kamu sekarang mencoba perhatian sama dia?” tanya Prasetyo dan Andini hanya bisa mengeleng. Dia sama sekali tidak tau apa yang Prasetyo maksud. Dia tidak pernah merasa membuat Rayhan menjadi seperti sekarang ini.
“Mas, kamu ini bilang apa sih? Kenapa kamu selalu menuduhku yang enggak-enggak? Aku kan waktu itu hanya menagih janji kamu. Aku cuma nagih jani yang pernah kamu ucapkan, dan menurutmu salah kalo aku tagih janji itu?” tanya Andini.
“Dan ini adalah kesalahan. Rayhan sekarang benci sama aku. Dia berani membantah. Ini kan yang kamu mau?”
“Mas, lain kali kalo ngomong dipikir dulu. Kalo kamu ngucapin janji dan kamu sendiri tidak sanggup menepati ucapannmu itu, buat apa?” tanya Andini dan Prasetyo tapak marah.
“Dini, berani kau?”
“Iya. Aku memang berani bilang seperti itu. Memang kau tidak bisa menepati kata-katamu sendiri. Kau pengecut, Mas. Di luar saja kau banyak omong, padahal kau tidak bisa melakukan semua yang jadi omonganmu. Kau tidak sanggup menepati janji yang pernah kau tepati.”
“Keluar! Jangan bikin ulah di rumah ini! Kalo kamu masih mau biki ulah, lebih baik kau keluar dan jangan menampakkan wajahmu di hadapanku,” bentak Prasetyo dan Andini tampak berkaca-kaca. Tapi, dia ingat satu hal yang menjadi senjatanya. Doumen yang kali ini dia pegang. Prasetyo tidak akan pernah bisa lari dari dokumen yang dia bawa kali ini.
“Kalo begitu, aku ingin dengar ucapan talak darimu. Ceraikan aku sekarang! Kita nikah hanya secara agama dan kau bisa mencraikanku kapanpun kau mau.” Andini menantang Prasetyo dengab ucapan itu dan terlihat Prasetyo hanya bisa terdiam. “Aku juga mau mengngatkan, kalo kita pernah bikin sesuatu yang sekaran tertulis di dokumen ini. Aku pastikan kau tidak akan lari kemanapun sebelum dokumen yang kita tanda tangani berdua saat itu, berbicara di hadapan hukum. Kau tidak akan pernah bisa lari dari kenyataan ini, Mas. Kau jangan harap bisa lari dari kenyataan ini.”
“Dini.”
“Aku gak peduli apa yang akan terjadi. Karena sejak awal, aku sudah mengendus jika kau tidak serius dengan pernikahan kita. Seharusnya aku mendengar ucapan adikku waktu itu. Kalo saja aku mendengar ucapan Ahmad, aku gak akan pernah mendapat masalah yang sumbernya dari lelaki pengecut sepertimu.”
Andini pergi dengan air mata yang terus mengucur. Dia tidak peduli dengan Prasetyo yang terus bicara. Dia sudah terlampau sakit hati dengan apa yang dikatakan Lelaki itu.
“Dini, tolong berhenti!” ucap Prasetyo.
“Mau apa lagi sih, Mas? Kau sudah jelas gak bisa mencintaiku dan gak akan pernah bisa menikahiku seara sah di mata hukum negara.”