Rayhan diam saat mendengar apa yang baru Alvin katakan pada Andini. Hatinya panas dan tidak bisa membiarkan semua ini terus berlanjut. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, akan membuat hidup Andini penuh dengan air mata. Baginya, kebahagiaan Andini hanyalah olokan baginya.
“Rayhan, pulang yuk! Kamu bisa ke rumahku dulu.” Alvin meminta Rayhan untuk mengikutinya, tapi Rayhan menolak. Dia ingin langsung pulang.
“Enggak, aku mau langsung pulang.”
“Han, tapi kamu belum dijemput.”
“Biarin, aku mau langsung pulang.” Rayhan mengarahkan kursi rodanya menuju jalan utama.
“Han.”
“Udahlah, ngapain sih ngatur terus? Kamu bisa gak sih gak ngatur aku?” protes Rayhan.
“Han, aku sama sekali gak mau ngatur kamu atau apapun itu.”
“Sudahlah, aku juga sudah dijemput. Kamu bisa pulang. Kita bisa ketemu lagi besok.” Rayhan langsung menuju sebuah mobil yang tidak lain adalah milik keluarganya.
Terlihat, sang Nenek ikut menjemputnya. Rayhan tersenyum melihat Nyonya Besar keluar dari mobil dan mendekatinya.
“Nenek jemput aku? Sama sopirnya Papa?” tanya Rayhan dan Nyonya Besar hanya bisa tersenyum dengan pertanyaan itu.
“Nenek cuma ingin jemput kamu. Kamu keberatan?” tanya Nyonya Besar dan Rayhan menggeleng.
“Mama memang kemana? Biasanya kan dijemput sama Mama atau sopir aja.”
“Mama kamu lagi istirahat. Biar nenek aja yang sekarang jemput kamu.” Wanita itu tersenyum dan Rayhan hanya bisa menatap Wanita itu dengan rasa penasaran. “Han, kamu kenapa sih, Le? Kamu keberatan dijemput sama nenek?”
“Enggak kok. Siapa yang keberatan?”
“Ayo pulang! Mama kamu sudah nunggu kamu di rumah.” Nyonya Besar tersenyujm dan Rayhan tidak bisa berkata apapun. Dia menatap Alvin dan meminta Alvin yang masih berada di tempatnya, agar tidak mengkhawatirkannya.
“Rayhan.”
“Kita ketemu besok.” Rayhan dan Alvin akhirnya saling melempar senyum sebelum mobil itu melaju. Rayhan terdiam dan menatap langit yang sebenarnya tidak begitu cerah.
“Rayhan, kamu gak apa-apa kan?” tanya Nyonya Besar dan Rayhan terheran dengan pertanyaan itu.
“Aku gak apa-apa. Memangnya ada apa?” tanya Rayhan yang merasa ada yang aneh.
“Kamu masih marah sama Papa?”