Prasetyo hanya diam setelah ibunya pergi. Hatinya sendiri masih sangat bimbang dengan apa yang baru saja dia putuskan. Sebenarnya, ini bukan semata-mata tentang proses terapi yang harus Rayhan jalani. Ini juga ada kaitannya dengan apa yang Andini ungkapkan tadi siang.
“Mas, aku sudah gak punya muka di hadapan siswa-siswiku. Baru saja aku tau kalo salah satu siswaku sudah tau apa yang ebenarnya terjadi di antara kita. Dia tau karena kemarin dia sempat mendengar perdebatan kita. Dia sudah tau apa yang kita rahasiakan. Dia bisa saja menyebarkan ini, walaupun aku endiri sebenarnya yakin kalo dia tidak gegabah.”
“Dini, aku janji, semua ini gak akan pernah tersebar kemanapun. Semua ini gak akan pernah tersebar dan namamu akan aman.”
“Kau ini gimana sih? Selalu saja janji. Kau hanya bisa janji dan janji. Gak ada satupun yang terbukti.”
“Dini, percaya padaku. Aku aan buktikan kalo semua ini akan baik-baik saja.”
Prsetyo hanya melihat sang istri yang ditemani seorang asisten rumah tengah menyiapkan obat untuk dikonsumsi Rayhan hari ini.
“Sari, tunggu aku! aku ingin bicara.” Prasetyo mendekat dan Sari terlihat hanya bisa diam.
“Apa yang kau lakukan? Kau bilang aku sudah tau bahkan sudah setuju dengan rencana gilamu itu? Aku saja baru tau saat kau mengatakan semuanya pada Ibu.” Sari langsung pergi dan Prasetyo hanya bisa mengikuti langkah wanita itu. “Aku gak akan ikut campur urusan ini. Aku cuma mau semuanya baik-baik saja. Aku tetap di sini demi Rayhan. Aku akan tetap berdiri dan tetap kuat demi kesehatan Rayhan. Beberapa har ini, dia seperti orang gak waras. Dia tidak seperti orang keanyakan. Dia sering murung dan jadi gampang emosi.”
“Sari, dengarkan aku dulu! Aku bisa jelaskan semua ini.”
“Mas, aku tidak butuh penjelasan. Toh kamu selama ini selalu memaksaku setuju. Aku gak perlu mendengar penelasan apapun darimu, dan aku akan setuju. Selama keputusan itu baik untuk Rayhan, aku akan ikut mendukung,” suara Sari gemetar dan tidak lagi menatapnya.
Sari melangkah dan Prasetyo semakin tidak enak dengan apa yang terjadi. Semua sebenarnya tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
***
“Pak Prasetyo? Ada apa?” tanya Alvin. Alvin sepertinya menyadari kehadirannya di tempat ini dan langsung berdiri. Bocah Lelaki itu terlihat gemetar melihat Prasetyo ada di sini.
“Vin, kau tau apa yang terjadi kemarin?” tanya Prasetyo dan Alvin hanya bisa terdiam sejenak. Alvin mundur beberapa langkah dan jelas sekali jika dia sedang ketakutan. “Tidak perlu takut. Aku gak akan membuatmu celaka dan masih bisa sama Rayhan.”
“Iya, Pak. Saya tau semuanya. Saya tau apa yang Bapak Rahasiakan sama Bu Dini.” Alvin menatap Prasetyo dan Prasetyo hanya bisa tersenyum melihat kepolosan bocah itu.
“Vin, aku tidak akan macam-macam, kalo kamu juga tidak berbuat macam-macam. Aku tidak akan membuatmu dalam kondisi bahaya, kalo kamu tidak macam-macam dengan rahasia itu.”
“Maksudnya?” tanya Alvin yang ketakutan dengan ucapan yang baru saja terucap.
“Kamu anak pandai. Aku tau kamu bisa memahami kata-kata saya.”
“Bapak mengancam saya?” tanya Alvin. Tubuh bocah itu terlihat semakin gemetar.
“Tidak usah takut. Aku tidak akan melukaimu atau membahayakanmu.”