Andini terdiam di ruang guru dengan air mata yang terus mengalir. Masalah ini semakin rumit. Entah kemapa, masalah ini sudah cukup rumit dan bertambah rumit dengan kejadian yang hari ini terjadi di lapangan sekolah.
“Kenapa semua jadi sepeti sekarang? Kenapa ini jadi rumit?” batin Andini.
“Permisi, Bu Dini. Bisa saya bicara sebentar?” tanya Bu Warsi yang mendekatinya. Andini langsung menghapus air matanya dan mencoba tersenyum.
“Bu Warsi, ada perlu apa ya?” tanya Adini.
“Saya mau tanya saja kok. Kenapa dengan Bu Dini? Kenapa Ibu sepertinya punya masalah? Apa ada kaitanya sama Rayhan?” tanya Bu Warsi dan membuat Andini hanya bisa terdiam. “Bu Dini, saya tanya lho. Tolong dijawab! Saya tanya gini, bukan karena sok perhatian atau gimana. Ibu sudah dipantau sama semua guru. Hampir semua guru sudah tau kalo Bu Dini ada masalah yang sedang dihadapi, dan masalah itu sebenarnya gak mudah. Ya, banyak juga yang penasaran, dengan hubungan Ibu dengan Rayhan. Masa, wali kelas sama muridnya gak akur begitu?”
“Maaf, Bu. Tapi, memang itu yang membuat saya jadi seperti ini.” Andini tidak berani menatap wajah Wanita yang ada di hadapannya.
“Ada masalah apa sebenarnya? Saya lihat, kemarin Ibu ini tengah berdebat sama Rayhan dan Alvin, bahkan Rayhan sampai mundur dari tim olimpiade. Ini kelihatannya masalah yang gak bisa dianggap sepele. Ibu gak rukun sama anak didiknya sendiri. Pasti ada sesuatu.” Andini hanya bisa terdiam beberapa saat dan entah apa yang harus dia jelaskan.
“Bu Warsi, gak begitu juga. Saya sebenarnya rukun aja sama siswa kelas saya. Gak ada apa-apa kok.”
“Bu Dini, jangan pernah berpikir kalo saya gak tau. Saya juga ngajar di kelas Ibu. Saya tau apa yang jadi pembicaraan siswa di kelas Ibu. Kalo saya nangkapnya, ada desas-desus yang kurang sedap.” Andini hanya bisa terdiam dan terus mencoba tersenyum. Bagaimanapun, semuanya harus dia tutup rapat walau dia sudah menyadari jika banyak orang sudah mengendus ada hal yang tidak beres.
“Bu Warsi, Ibu ini bicara apa sih? Kami gak ada apa-apa kok. Kami semua baik-baik saja.”
“Bu Dini, saya gak buta dan tuli lho ya. Saya masih melihat dan mendengar apa yang jadi pembicaraan di kalangan siswa dan siswi kita. Saya tau, apa yang mereka bicarakan mulai tadi pagi.” Andini langsung terdiam dan tidak sanggup mendengar apa yang dikatakan wanita yang sedang bersamanya. Andini bukan tidak tau apa yang tengah para siswa katakan terkait dirinya. Mulai ada desas-desus jika Andini adalah pelakor dan menjadi orang ketiga dalam keluarga Rayhan. “Bu Dini, saya gak akan bilang ini semua sama Ibu. Tapi, Ibu akan tau apa yang tengah jadi pembicaraan hangat para siswa kita. Andai saja itu benar, saya rasa alasan itu menjadi alasan yang kuat kenapa Rayhan maksa untuk mengundurkan diri.”
“Bu Warsi, saya tau. Tapi, masalah saya dengan kedua siswa saya itu, saya mohon beri waktu. Saya akan selesaikan semua ini, terutama masalah di antara saya sama Rayhan. Ini hanyalah salah paham.” Andini hanya bisa menatap Wanita yang sebenarnya sangat menginginkan jawaban.
“Serius cuma salah paham? Saya rasa ini bukan salah paham biasa, bahkan kalo saya nilai ini sebenarnya lebih dari salah paham.”
“Bu Warsi, ini beneran salah paham. Tolong, beri kami waktu untuk menyelesaikannya.”
“Baiklah kalo memang butuh bantuan, bisa bilang sama saya. Jangan diselesaikan sendiri kalo memang gak mampu. Ini sudah terdengar ke pimpian sekolah dan ada rencana kalo Kepala Sekolah akan memanggil Bu Dini dan Rayhan lagi.” Bu Warsi akhirnya memilih meninggalkan Andini. Andini hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata. Dia hanya bisa menatap beberapa lembar tugas yang sama sekali belum dikoreksi.
Andini melihat lembaran tugas para siswa dan mulai memeriksa satu-persatu. Andini akhirnya termenung saat mengamati lembar milik Rayhan. Bukan jawaban atau tulisannya yang membuat Andini terdiam, tapi apa yang terselip di balik lembar tugas milik siswanya yang satu ini. Sebuah foto yang menunjukkan dirinya dan Prasetyo tengah bersama. Dia ingat, foto itu diambil saat pernikah dirinya dan Praetyo digelar di salah satu tempat yang tersembunyi.
“Rayhan? Dia tau foto ini? Dia juga tau tentang foto itu. Kalo dia bisa menemukan dan mengambil foto ini, dia pasti sudah tau tentang pernikahan kami cukup jauh.” Andini tidak bisa tenang setelah melihat itu.
Andini langsung keluar dan tidak ingi sendirian di ruang itu. Baginya, sendiri di ruang seluas itu hanya untuk mengingatkan dirinya tentang apa yang sudah Rayhan lakukan. Terlihat, Ahmad sudah menunggunya di gerbang sekolah dengan wajah yang jengkel.
“Mbak, ayo pulang! Kemana aja sih? Aku telepon dari tadi gak dijawab?” omel Ahmad yang sepertinya sudah begitu lama menunggunya.
“Ahmad. Kita pulang aja yuk. Aku takut.”
“Takut? Takut apa sih? Emang ada setan? Mana ada setan jam segini?”
“Ahmad, sudahlah. Aku tidak tau bgaimana harus mengatakannya.”
“Mbak Dini ini kenapa sih? Kayak orang lihat setan aja?”