Rayhan kali ini tidak berniat mengikuti pelajaran, bahkan dia muak melihat wajah Andini. Setelah dia ribut dengan Andini, dia sengaja menuju arah lain dan tidak akan pernah kembali ke kelas sebelum Andini keluar dari kelas itu.
Tidak lama, Alvin mendekatinya dan sepertinya ingin mengajaknya kembali ke kelas dan belajar seperti biasa.
“Rayhan, mau kemana?” tanya Alvin. Rayhan tidak menjawab dan sepertinya Alvin msih ingin mengikuti kemana dia pergi.
“Kamu ini kenapa sih? Gak usah ngajak aku ketemu Pelakor. Aku gak mau ketemu Pelakor seperti dia.” Rayhan emosi. Bisa-bisanya, Alvin yng sudah terseret masalah yang kali ini menimpa keluarganya, tapi masih mengajaknya kembali menuju kelas dan menemui Andini.
“Han, aku tau kamu marah. Aku tau kenapa kamu jadi seperti ini.” Rayhan menoleh dan ingin tau apa yang Alvin ingin katakan. “Tapi, ayo ke kelas. Kamu suka matematika kan? Aku tau kamu muak sama Bu Dini, tapi bukan berarti kamu harus meninggalkan pelajaran.”
“Apa untungnya aku ikut kelasnya dia? Aku tadi dapat hinaan. Aku tadi dihina sama teman kita. Kau tau kan semuanya gara-gara ulah pelakor gak tau malu itu. Terus, aku harus ikut pelajaran dan bertemu pelakor seperti dia?” tanya Rayhan.
“Rayhan, aku tau. Aku juga marah. Tapi, tidak seperti ini caranya. Kita bahas nanti. Kita bahas ini semua saat pulang sekolah.” Rayhan akhirnya mengikuti apa yang Alvin sarankan. Dia kembali ke kelas dan sesampainya di kelas, Alvin hanya tersenyum ke arah Andini. “Permisi, mohon maaf, Bu.”
“Rayhan.” Andini memanggilnya dan Rayhan tidak begitu peduli. “Lain kali jangan diulangi ya. Semuanya, lain kali jangan sampai ada kejadian seperti tadi.”
“Lagian, ngapain bela anak dari orang tukang selingkuh?” tanya salah satu siswa. Rayhan ingin melempar benda tang ada di hadapannya, sebelum Alvin akhirnya memegangi tangan itu.
“Han, sudah. Gak usah balas. Lagian dia juga mempermalukan Bu Andini secara gak langsung.” Alvin menatap Rayhan dan memberi kode jika dia harus melihat Andini. Terlihat Andini mukanya pucat seperti orang yang sedang menahan malu.
“Bu Dini kenapa? Yang diejek aku, kenapa wajah Bu Dini yang pucat?” tanya Rayhan. Pertanyaan itu sontak menjadi perhatian para siswa, terutama Alvin.
“Han.”
“Sudahlah, biar dia juga malu. Lagian, dia juga salah kok. Ngapain juga aku harus nahan semua ini?” bisik Rayhan dan Alvin tampak diam.
“Apa gak terlalu vulgar?”
“Biarin. Dia juga terang-terangan ingin Papaku pergi kok. Masa aku gak boleh terang-terangan?” tanya Rayhan dan Alvin tudak bisa berbuat banyak.
***
Sepulang sekolah, Rayhan memilih mengajak Alvin untuk ke rumahnya. Rayhan ingin bertukar cerita terkait apa yang harus mereka lakukan pada Andini. Rayhan sudah tau, jika Alvin sempat diintimidasi Papanya dan kedua orang tua Alvin sudah tau tentang apa yang terjadi di keluarganya.
“Han, aku di luar aja ya. Aku gak mau ketemu Papa kamu.” Alvin akhirnya berhenti dan duduk di Taman Rumah.
“Lho, kenapa?” tanya Rayhan.
“Aku masih ingat sama kejadian kemarin. Aku gak bisa melupakan kejadian yang kemarin.” Rayhan terdiam dan mencoba mengerti apa yang Alvin sedang hadapi. “Ayahku marah. Ayahku gak mau kalo kita akrab, karena ulah Papa kamu.”