Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #37

Rayhan dan Alvin (Rayhan)

Rayhan terdiam melihat Nyonya Besar yang tersenyum dan mulai melangkah menjauh. Ada hal yang mengganjal hatinya dan ingin dia lepaskan hari ini, tapi entah kenpa tidak bisa dia lepaskan begitu saja. dia ingin mengadu ke Nyonya Besar, tapi dia tidak kuasa untuk mengataka apa yang semuanya sedang dihadapi. Mamanya bahkan tidak menceritakan terkait pernikahan antara Sang Papa dan Andini.

Tiba-tiba saja, Rayhan membanting sebuahb gelas plastik dan mengenai kaca. Sontak, suara itu membuat semua orang langsung terdiam, terutama Nyonya Besar.

“Rayhan, ada apa sih, Le? Kenapa sampai banting belas seperti itu?” tanya Sari dan terlihat, Nyonya Besar akhirnya tidak jadi keluar. Wanita itu mendekat dengan tatapan aneh.

“Ini semua gara-gara Papa. Kalo Papa gak buat ulah, aku gak akan dibenci oleh ayahnya Alvin. Selama ini, keluarganya Alvin baik sama aku, tapi sekarang enggak. Kelakuan Papa membuat keluarganya membenciku,” ucap Rayhan dan terlihat Nyonya Besar tengah menatap Sari yang tengah kebingungan.

“Rayhan.”

“Mama, kenapa Mama masih bertahan sama Papa? Kenapa Mama masih bertahan dengan sifat Papa yang seperti itu? Kenapa Mama cuma diam saat dipermalukan seperti tadi? Mama sadar gak sih, kalo Papa itu sudah mempermalukan Mama di hadapan banyak orang? Papa gak sayang sama Mama. Papa cuma mementingkan dirinya sendiri. Mama hanya dijadikan alat sama Papa.” Rayhan menumpahkan apa yang menjadi kekecewaannya di hadapan kedua wanita itu. Terlihat jelas, Nyonya besar hanya bisa bingung.

“Ada apa ini? Rayhan, ada apa?” tanya Nyonya Besar dan Rayhan hanya bisa menangis.

“Rayhan, jangan seperti ini. Jangan marah-marah di hadapan Nenek.”

“Biar Nenek tau. Mama tadi gak cerita semua sama Nenek. Kenapa sih, Ma? Kenapa sih Mama gak gak mau cerita semuanya sama Nenek? Apa yang Mama pertahankan dari Papa?” tanya Rayhan dan Sari hanya bisa menatap Rayhan dengan air mata yang terus menetes.

“Rayhan, ini semua maam lakukan demi kamu. Mama lakukan ini semua demi kamu.” Rayhan hanya bisa tediam dan menahan amarah yang terus bergemuruh. Sang Mama bertahan demi dia? Apa yang bisa dipertahankan jika keasaannya sudah seperti ini?

“Enggak, Ma. Ini semua buka demi aku. Mama mengorbankan dirinya sendiri untuk Papa manfaatkan. Papa selama ini hanya memanfatkan Mama.” Rayhan menatap Mamanya dan tangisnya mulai pecah. Dia melakukansemuanya demi sang Mama, tapi Mamnya malah memilih bertahan.

“Rayhan,”

“Sudahlah, Ma! Kalo Mama terus seperti ini, mending Mama cerai aja sama Papa sejak dulu. Mama cuma dapat air mata dan sakit hati aja selama ini.” Rayhan langsung pergi dan Sari tampak ingin bicara dengan Rayhan terkait apa yang terjadi. Nyonya Besar akhirnya mencoba mengikuti kemana Rayhan pergi.

“Rayhan, ada apa ini sebenarnya? Sari, kenapa ini? Ada apa sebenarnya sama kalian?” tanya Nyonya Besar. Rayhan tidak ingin menjawab pertanyaan itu dan langsung masuk kamar. Dia menangis sejadi-jadinya dengan kejadian hari ini.

***

Rayhan trdiam di halaman kelas dan mengingat apa yang terjadi di kelas. Alvin mulai menjaga jark darinya dan bilang jika dia tengah diawasi oleh seseorang. Ulah Papanya berhasil membuat hubungannya dengan Alvin memiliki jarak. Dia jua mendengar jia Papnya mulai mengurus kelengapannya untuk pindah sekolah.

“Rayhan, kamu baik-baik saja?” tanya Bu Warsi yang kebetuan bertemu Rayhan di halaman kelasnya. Rayhan hanya bisa terdiam dan mencoba terenyum pada wanita itu.

“Saya gak tau.”

“Lho, kenapa gak tau? Ada masalah apa sih?”

“Saya katanya mau pindah.”

Lihat selengkapnya