Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #38

mereka membenciku (Andini)

Andini hanya bisa diam mendengar apa yang baru Rayhan katakan. Semuanya sudah sulit untuk dikontrol dan Andini juga melihat jika Rayhan tidak ada bedanya dengan Prasetyo. Mereka sama-sama ingin mengendalikan hidupnya.

“Dini.” Andini menoleh dan terlihat Prasetyo tersenyum. Andini menjauh dan tidak pernah ingin Prasetyo bisa mendekatinya. “Dini, kamu marah?”

“Kamu masih tanya aku marah apa enggak? Gak dengar apa yang Rayhan baru saja katakan padaku? Aku sudah tidak punya harga diri di hadapannya, dan kamu sama sekali tidak membantu untuk membersihkan namaku. Kau, hanya membuat namaku semakin hina. Apa yang kau lakukan sama Alvin, membuat aku semaki tersudut. Aku sekarang gak hanya dibenci anakmu, tapi sama muridku yang lain.” Andini tidak kuasa menahan air mata dan pergi begitu saja.

“Dini, aku minta maaf.”

“Apa gunanya kau minta maaf? Aku tau, ini semua adalah rencanamu. Aku tau ini semua sudah jadi rencanamu untu terus menekanku. Ingat ya, Mas! Semakin kamu mempermalukanku, kamu juga sama saja dengan mempermalukan dirimu sendiri. Semakin kau menginjak harga diriku di hadapan banyak orang, kamu sama saja sedang menginjak harga dirimu sendiri.”

“Dini, apa yang kamu maksud? Rencana apa yang kau maksud?” tanya Prasetyo yang tampak kebingungan. Andini hanya bisa terdiam beberapa saat melihat betapa bingungnya Prasetyo hari ini.

“Mas, jangan pernah berpikir kalo aku tidak tau. Aku tau semuanya. Kau memanfaatkan Rayhan kan? Dia selama ini mendekatiku dan terus memaksa agar aku mau menyerahkan dokumen itu padanya. Aku ini semua pasti akal-akalanmu.”

“Dini, dengarkan penjelasanku dulu!” pinta Prasetyo.

“Gak ada yang bisa dijelaskan. Semuanya sudah jelas. Kamu bisa pulang. Jangan sampai warga sekolah ini yang sudah mulai curiga, semakin curiga dengan hubungan kita.” Andini langsung saja pergi dan tidak peduli dengan apa yang Prasetyo ingin katakan. Baginya, semuanya sudah begitu jelas.

***

Andini tidak langsung pulang hari ini. Dia hanya diam di ruang guru dan menatap para siswa dengan segaka macam aktivitasnya. Raut wajah yang sumringah terus terpancar di wajah para siswanya, serasi dengan cuaca hari ini.

“Bagaimana aku bisa tertawa lepas seperti mereka? Aku saja masih tersandera dengan Lelaki itu. Bagaimana aku bisa lepas dari jeratan Lelaki itu? Dia tidak akan pernah menikahiku secara resmi. Aku gak tau harus bagaimana. Aku gak tau harus berbuat apa. Aku tidak bisa berbuat apapun, karena aku sendiri sudah terikat dengan apa yang dia janjikan selama ini,” tangis Andini pecah di tengah kesendiriannya. Pernikahan yang sebatas secara agama, membuatnya dilema seperti ini. “Andai aku tidak selalu kepkiran uang dan biaya sebesar itu, aku tidak akan pernah menikah dengannya dan menjadi seperti ini.”

Andini terus menagis dan tidak lama, terdengar suara kursi roda dan dua anak lelaki yang tengah bercakap. Andini tau jika kedua lelaki itu adalah Rayhan dan Alvin. Sepertinya, hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.

“Han, aku minta maaf. Aku tidak bisa untuk hari ini. Aku gak mau sampai kenapa-napa. Ada orang yang mengawasiku.”

“Sudahlah, Vin. Aku memang pantas dibenci dan tidak pantas punya teman. Anak seorang tukang selingkuh memang tidak layak punya teman.” Terlihat Rayhan marah dan tidak ingin menatap Alvin.

“Han, gak begitu.”

“Kamu boleh pergi, dan aku bisa semuanya sendiri. Kamu seharusnya nurut sama orang tuamu. Orang tuamu benar, aku tidak layak didekati dan punya teman yang baik.” Rayhan khirnya pergi dan Andini terdiam menatap Alvin yang terus meminta Rayhan tetap di tempat itu dan mendengar apa yang ingin dia katakan.

“Rayhan, kumohon jangan marah. Aku tidak seperti itu. Han, aku tidak bermaksud seperti itu. Rayhan, sampai kapanpun, aku tetap menganggapmu sebagai teman.” Alvin terdiam dan Andini hanya bisa meneteskan air mata menatap kedua siswanya yang terkenal akrab, kali ini juga terjebak kesalah pahaman.

Lihat selengkapnya