Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #39

kekecewaan (Rayhan)

Di kamar Rayhan.

Rayhan hanya termenung seorang diri dan mengingat apa yang Alvin ucapkan sebelum pulang sekolah. Dia sebenarnya ingin memperbaiki hubungannya dengan Alvin sekalian menegaskan jika semua baik-baik saja. Tidak ada amarah atas apa yang dilakukan Ayahnya Alvin padanya tempo hari. Rayhan hanya ingin memberi isyarat pada Alvin jika dia tidak lagi memikirkan apa yang menjadi ucapan Ayahnya Alvin beberapa hari yang lalu. Tapi, sepertinya respon Alvin menurutnya tidak begitu baik. Sepertinya Alvim masih sakit hati atas apa yang dilakukan Papanya dan masih takut dengan apa yang akan dilakukan keluarganya jika dekat dengan dirinya.

“Alvin, aku mau minta tolong kamu masalah tugas kita. Kamu kan tau, aku lemah untuk urusan pelajaran biologi. Aku minta tolong, ayo kita belajar bareng. Aku nanti bakal ajarin kamu matematika.” Rayhan mendekat pada Alvin yang tengah membereskan barang-barangnya.

“Han, aku mihta maaf sebelumnya. Aku gak bisa kalo hari ini. Sekali lagi aku bilang gak bisa. Aku sudah dijemput sama Ayahku. Sebentar lagi beliau datang.” Rayhan yang menatap wajah Alvin saat mengucapkan semua itu, melihat ada sesuatu yang tengah disembunyikan. Dia tau, jika Ayahnya Alvin belum puang jika jam segini.

“Vin, sebentar saja kok. Gak bakal lama juga. Aku juga mau tanya satu soal aja. Lagian Ayah kamu belum puang jam segini. Kita bisa belajar bareng dulu. Lagian aku nanti juga ajari kamu Matematika kok. Masa sih kamu gak mau?” tanya Rayhan yang mulai emosi. Dia sangat tersinggung dengan apa yang baru saja Alvin katakan.

“Han, aku gak bisa. Bukan karena aku gak mau ngajari kamu. Aku serius gak bisa kalo hari ini. Serius, aku gak bisa sekarang. Ayahku minta seseorang untuk menjemputku.”

“Vin, kamu ini kenapa sih? Aku masih nganggap kamu sebagai temanku lho. Masa sih kamu gak mau ngajari aku terkait tugas yang baru diberikan? Kamu mau pertemanan kita benar-bejar hancur? Kamu mau pesahabatan kita benar-benr putus begitu saja?” tanya Rayhan yang emosinya mulai tidak terkontrol.

“Han, gak seperti itu.”

“Aku tau, Papaku sudah melakukan gal gak bener sama kamu. Tapi, itu tetap ulah Papaku. Aku sama kamu tetap gak punya masalah apapun. Kita tetap temenan dan aku gak peduli terkait apa yang Papaku katakan.”

“Han, bukan seperti itu. Aku tau kalo kamu masih temanku.”

“Kalo kamu memang masih temanku, tolonglah. Satu soal aja yang benar-benar aku gak paham. Kamu kan tau kalo aku ini lemah di pelajaran seperti biologi.” Rayhan terus mendesak. Dia melihat halaman sekolah dan sama sekali tidak ada mobil milik keluarganya Alvin. “Vin, mereka belum datang. Paling juga jemput di jam biasanya. Kamu ini kenapa sih? Aku masih anggap kamu sebagai teman. Aku masih anggap kamu sebagai sahabat seperti sebelumnya. Gak ada yang berubah kok. Terus, kamu jadi seperti ini sama aku?”

“Han,sekali lagi aku mau minta maaf. Kita tetap temenan kok. Sementara aja ya, kita seperti ini.” Apa yang Alvin kataka membuat emosi Rayhan memuncak. Dia seperti mendengar apa yang Alvin ucapkan sepetii memutuskan hubungan persahabatan mereka.

“Ya sudah, kalo kamu gak mau, aku juga gak maksa. Lagian aku juga gak pantas punya teman. Apa yang dikatakan teman-teman yang lain, itu semua benar. Aku gak pantas punya teman, apalagi punya teman yang oerhatian. Aku tau, kamu sendiri malu punya teman anak seorang tukang selingkuh sepertiku.” Rayhan pergi dengan air mata yang menetes dan Alvin hanya bisa meminta Rayhan mendengar apa yang ingin dia jelaskan. “Apa lagi sih, Vin? Semua sudah jelas kan? Aku gak pantas punya teman. Aku memang gak pantas jadi bagian dari kalian.”

“Han, aku cuma mau bilang sesuatu.”

“Gak usah katakan apapun. Aku sudah tau apa yang mau kamu katakan.” Rayhan menggeleng dan menjauh. Terlihat Alvin terus mengejar. “Aku tau, kamu sakit hati. Aku tau kalo kamu masih sakit hati dengan apa yang terjadi.”

“Rayhan, aku gak berniat seperti itu. Kumohon, jangan salah sangka untuk masalah ini.”

Lihat selengkapnya