Rayhan hanya diam setelah menghabiskan makanan itu dan menatap kamarnya yang masih berantakan. Dia tidak akan membersihkan kamar itu da tidak akan membiarkan siapapun membersihkan kamar yang terlihat layaknya kapal pecah.
“Han, habis ini kita keluar dulu ya! Birkan pembantu di rumah ini membereskan kamar kamu. kamu gak mungkin mengerjakan semua ini kan? Kamu harus dibantu. Tapi, mama tau kalo kamu hari ini capek. Jadi, biar pembantu yang merapikan kamar ini.” Rayhan terdiam beberapa saat setelah mendengar apa yang Mamanya katakan. Dia tidak pernah menginginkan itu terjadi.
“Enggak. Gak usah dirapikan. Biarkan Kamar ini berantakan seperti sekarang. Aku sengaja bikin kamar ini berantakan, biar semua tau kalo keluarga kita juga sedang berantakan.” Rayhan mengatakan semuanya denganbeban emosi yang ada dalam hatinya.
“Rayhan, kok begitu sih? Gak baik lho kalo kamar ini dibiarkan berantakan. Bukan karakter kita kalo membiarkan ini berantakan.” Rayhan menggeleng dan tidak mau mendengar apapun.
“Gak usah. Kalo aku bilang biarkan ya biarkan aja, Ma. Lagian sejak kapan sih kehidupan kita rapi?” tanya Rayhan dan terlihat Sari hanya bisa menggeleng. “Kehidupan kita gak pernah rapi, seperti yang orang-orang katakan. Semuanya berantakan, cuma banyak orang yang gak tau bagaimana kita bertahan.”
“Rayhan, kamu ini kenapa sih, Le? Kamu masih marah rupanya.”
“Mama, aku memang marah. Aku memang gak bisa memaafkan apa yang terjadi. Papa sudah keterlaluan dan kehadiran Pelakor itu sudah membuat hidup kita jadi seperti ini. Mama kenapa sih kok masih mau bertahan? Aku tau kalo Mama sering nangis. Aku tau kalo Mama menangis waktu sendiri, dan waktu Mama sakit hari itu, aku tau penyebabnya. Mama stress kan lihat Papa yang sama sekali gak peduli?” tanya Rayhan dan Sari hanya bisa menggeleng.
“Rayhan, tidak semua yang kau katakan itu benar. Mama selama ini bertahan demi kamu. Mama sebenarnya bertahan karena tidak ingin kamu kenapa-napa. Tapi, sepertinya keputusan Mama salah.” Rayhan yang meliha Sari meneteskan air mata hanya bisa diam sejenak. Dia merasa tidak terlalu berhasil menjaga Mamanya.
“Mama, gak perlu bertahan dengan kondisi seperti ini. Aku bisa jaga Mama. Aku bisa kok jaga Mama, walau aku gak sempurna seperti yang lain. Aku bisa jaga Mama.” Rayhan memegang tangan Sari dan meyakinannya jika semua baik-baik saja.
“Han, semuanya tidak seperti yang kau bayangkan. Semuanya tidak semudah yang kau pikirkan. Mama cuma mau kamu baik-baik saja.” sari tersenyum dan Rayhan hanya bisa terdiam beberapa saat.
“Mama, aku gak mau lihat Mama terus nangis seperti ini. Aku melakukan semua ini karena gak mau lihat Mama terus menangis dan seperti orang yang tertekan. Aku mau Mama jadi orang bebas dan jadi diri Mama sendiri.” Rayhan mengatakan semua itu dengan wajah yang basah dan menghapus air mata Mamanya yang meluncur begitu saja.
“Mama minta maaf ya, Le. Mama tau kalo tindakan Mama sudah salah. Mama sadar kalo ini salah” Sari hanya bisa terdiam dan mengajak Rayhan keluar. “Le, kita bertahan sebentar saja. yang penting, Mama gak akan pernah biarkan kamu sampai kenapa-napa.”
“Mama, aku akan buat Mama bisa bebas dan jadi diri Mama sendiri. Mama gak perlu pura-pura jadi orang lain. aku gak suka kalo Mama jadi orang lain. aku gak kenal Mama yang seperti itu. Mama gak gitu.”
“Rayhan, mama minta maaf.” Sari tersenyum.
“Mama, aku melakukan semua ini untuk Mama.” Rayhan kembali mengatakan itu.
***
Rayhan pagi ini tidak sekolah karena sekolahnya lagi libur. Dia hari ini harus pergi menemui Psikiater seperti yang diminta Mamanya semalam dan harus melakukan beberapa tindakan. Entah kenapa, ruang Psikiater lebih sering dia kunjungi dalam kurun waktu dua pekan terakhir daripada tempat bermain atau sejenisnya. Biasanya, jika hari libur dia akan berada di taman kota atau tempat belajar. Kali ini, semuanya tidak berlaku. Dia harus kembali ke ruangan Psikiater dan menghadapi orang yang biasa menangani orang yang mengidap gangguan mental.
“Rayhan, kamu gak apa-pa?” tanya Sari dan Rayhan tidak menjawab. Rayhan hanya meneteskan air mata dan tidak menatap Mamanya sedikitpun. Ukan karena dia tidak ingin, tapi dia tidak mau melihat wajah Mamanya seperti orang yang baru menangis. “Kamu gak marah kan sama Mama?”
“Kenapa aku harus marah sama Mama?” tanya Rayhan.
“Han, tapi kamu sejak tadi gak bicara apapun lho. Biasanya kalo kamu begini, kamu lagi marah.”
“Aku gak apa-apa kok. Cuma aku gak mau bicara sama Papa. Aku jengkel dan marah sama Papa.” Rayhan akhirnya menatap Mamanya yang tersenyum.
“Rayhan, kamu ini kenapa sih? Sejak semalam kamu jadi seperti ini.”
“Aku sebenarnya gak apa-apa kok.”