Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #41

antara Rayhan dan Alvin (Rayhan)

“Rayhan.” Alvin mendekat dan langsung memeluk Rayhan yang sedang menangis. Rayhan sangat sakit hati, degan ulah orang yang ingin persahabatan mereka hancur begitu saja.

“Siapa yang menginginkan semua ini? Siapa yang menginginkan semua ini terjadi?” tanya Rayhan. Alvin hanya bisa terdiam dan tidak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi.

“Han, kita gak tau siapa yang sebenarnya membuat kita seperti ini. Tapi, aku rasa Bu Dini adalah orang yang bertanggung jawab atas apa yang kita lalui kemarin,” ucap Alvin dan Rayhan hanya bisa diam. Entah kenapa, wanita itu selalu saja berkaitan dengan apa yang terjadi pada hidupnya sekarang.

“Bu Dini?” tanya Rayhan dan jelas sekali Rayhan hari ini ingin melempar benda apapun yang ada di sekitarnya. Jika Alvin tidak segera melakukan hal untuk mencegah itu, sudah pasti sebuah benda melayang entah kemana. “Hat-hati saja. Aku akan membuat Perempuan itu menderita. Aku akan membuat Perempuan itu semakin menderita atas perlakuannya padaku dan Alvin.”

“Rayhan.” Sari mendekat dan Rayhan menggeleng. “Tidak baik kalo mengambil keputusan dalam kondisi marah sepeti itu. Kalo kamu terus seperti ini, kamu sendiri yang akan rugi.”

“Aku rugi apa memangnya? Aku memangnya rugi apa kalo melawan pelakor itu? Dia sudah jadi orang ketiga di rumah kita kan? Gak akan ada tempat bagi orang ketiga. Gak ada tempat bagi siapapun yang ingin menghancurkan keluarga kita, apalagi seorang pelakor seperti perempuan murahan itu.” Rayhan mengatakan semua itu dan terlihat Sari hanya busa menggeleng. Entah apa yang sedang dikhawatirkan Mamanya kali ini. Wajahnya jelas sekali jika tengah khawatir.

“Rayhan, mama cuma mau bilang, kalo ini semua gak baik. Ini bakal merugikan dirimu sendiri. Apa yang kamu lakukan sekarang ini, bakal merugikan kamu.”

“Kalo perempuan itu terus dibiarkan hidup sama Papa dan Papa terus melakukan ini sama kita, aku lebih rugi. Aku harus lihat Mama menangis tiap hari. Aku sudah pasti rugi kalo diam saja.” Semua orang diam dan tidak ada yang berani membalas kata-kata Rayhan.

“Rayhan, jangan bentak-bentak Mama kamu dong!” ucap Alvin dan Rayhan terdiam beberapa saat sebelu akhirnya tangis itu kembali pecah. “Han, aku tetap teman kamu. Aku akan ada bersamamu apapun kondisimu. Aku akan bantu kamu membongkar semua ini.”

Rayhan hanya bisa menangis dan tidak tau harus bagaimana menghadapi semua ini. Dia terus menggeleng dan menagis.

“Aku gak akan bisa memaafkan mereka. Aku gak akan bisa memaafkan mereka jika semuanya sudah seperti ini.”

“Rayhan.” Alvin hanya bisa memanggilnya dan Rayhan tidak peduli.

Rayhan langsung pergi dan tidak peduli dengan apa yang terjadi. Hatinya sudah cukup hancur untuk mengetahu fakta itu.

***

Rayhan terdiam dalam kamarnya dan tidak ingin keluar setelah pulang dari tempat Psikiater. Semuanya sudah hancur hari ini.

“Rayhan.” Sari memasuk kamar dan Rayhan hanya bisa menoleh. “Han, kamu kenapa, Le? Kamu kenapa jadi seperti ini?” tanya Sari dan Rayhan hanya bisa menggeleng. Dia tidak pernah ingin melihat Mamanya terus terbebani oleh masalahnya sekarang ini.

“Aku gak apa-apa kok. Aku, gak apa-apa.”

“Beneran gak apa-apa?” tanya Sari.

“Aku gak apa-apa kok.” Rayhan menatap Mamanya yang sedang diam di sampingnya.

“Kalo gitu, ayo keluar! Ada Alvin. Dia sengaja datang ke sini buat ngunjungi kamu. katanya, mau nengokin kamu.” Mendengar apa yang Mamanya katakan, Rayhan langsung keluar dan menuju ruang tamu. Benar saja, Alvin sudah ada di ruang tamu dan tersenyum melihatnya keluar.

“Rayhah, maaf gak ngasih kabar kalo aku mau ke sini.” Rayhan langsung dibantu untuk bis duduk di kursi.

“Gak apa-apa. Lagian aku juga gak boleh pegang HP sama laptop selama beberapa hari.”

Lihat selengkapnya