Andini matanya berkaca-kaca dengan apa yang baru Rayhan ucapkan. Dia tidak pernah menyangka jika muridnya yang dia kenal begitu cerdas, sekarang ini begitu membenci dan ingin membuat hidupnya semakin kacau. Hari ini, dia mendengar hinaan yang sangat menyakitkan hati yang terlontar dari Rayhan. Hidupnya sekarang sudah berantakan dan Rayhan masih saja mencoba mendekat dan membuat semuanya semakin kacau.
“Rayhan, kenapa kamu seperti ini?” tanya Andini sambil meneteskan air mata.
“Kenapa saya seperti ini? Ibu gak sadar dengan apa yang Ibu lakukan? Ibu gak hanya merusak ketenangan saya dan Mama, tapi juga merusak persahabatan saya sama Alvin. Alvin sekarang selalu khawatir kalo dekat sama saya. Semuanya karena Ibu kan? Ibu yang mau saya gak punya teman dan gak kerasan di sekolah ini kan?” tanya Rayhan dan Andini menggeleng.
“Rayhan, sama sekali enggak. Ibu gak pernah mau kamu sama Alvin kenapa-napa. Ibu juga mau kalian berdua bersahabat seperti layaknya kalian bersahabat.”
“Ibu bohong. Bu Dini bohong.” Rayhan tetap berada di tempat itu dan Andini tidak bisa kenana-mana. Rayhan berhasil mengunci aksesnya keluar kemanapun. “Jangan pernah berharap Ibu bisa keluar sebelum menyerahkan benda yang Ibu sembunyikan. Saya tau, Ibu menyembunyikan dokumen yang sangat penting. Saya minta benda itu.”
“Rayhan, ibu gak akan pernah memberikan benda itu kepada siapapun, termasuk pada Papa kamu. dokumen ini gak akan aku biarkan jatuh ke siapapun.” Andini hanya bisa menangis dan merasa ada tekanan besar yang dia hadapi.
Andini tidak bisa berbuat banyak hari itu. Dia hanya bisa diam dan menunggu Rayhan capek. Dia melihat sekitarnya dan kondisi sekolah sudah lumayan sepi. Tidak ada yang bisa dia mintai bantuan.
“Jangan pernah berharap bisa minta banuan dari orang lain!” ejek Rayhan.
“Rayhan.” Andini menangis tersedu-sedu. Dia ingin mencari bantuan kepada orang, tapi tidak kunjung ada orang lewat. Sepertinya Andini memang salah memilih jalan. Dia memilih jalan yang sepi dan menjadi senjata bagi Rayhan untuk mengurungnya di sini.
Melihat waktu yang sudah semakin sore, tidak ada pilihan lain bagi Andini selain berteriak. Rayhan yang mendengar teriakan Andini tampak begitu emosi.
“Ngapain sih teriak?” tanya Rayhan.
“Aku harus teriak. Aku harus teriak biar kamu segera pergi.” Andini menatakan itu dan terlihat Rayhan semakin emosi.
“Saya gak akan pergi. Ibu pikir dengan Ibu teriak seperti itu, saya jadi takut? Saya gak akan takut.” Rayhan tetap berada di situ sampai akhirnya seorang satpam dan Bu Warsi mendatangi tempat tersebut. Andini melihat kehadiran Bu Warsi hanya bisa terdiam dan begitu ketakutan.
“Bu Dini? Rayhan? Sedang apa kalian ada di sini?” tanya Bu Warsi dan Andini hanya bisa menabhs. “Rayhan, ini sudah waktunya pulang dan kamu di sini sama Bu Dini? Kamu sedang apa? Kamu ini kenapa sih? Kamu apakan guru kamu ini? Kenapa dia sampai nangis seperti ini?”
“Memang saya sudah apain Bu Dini? Bu Dini juga gak terluka kan? Bu Dini gak ada luka atau memar di bagian tubuhnya kan? Terus kenapa saya yang disalahkan?” tanya Rayhan yang mencoba memprotes apa yang dikatakan Bu Warsi.
“Rayhan, apa-apaan kamu ini? Kenapa semakin hari kamu semakin gak sopan sama Wali Kelas kamu?” tanya Bu Warsi dan Andini memegang tangan Bu Warsi dengan begitu kuat. “Han, Bu Dini sampai ketakutan seperti ini. Pasti kamu sudah melakukan hal yang gak benar.”
“Memangnya saya gak sopan darimananya? Saya kan cuma bilang baik-baik. Kenapa saya masih dibilang gak sopan?” tanya Rayhan. Andini yang melihat perdebatan panjang antara Bu Warsi dan Rayhan, tidak bisa membiarkan semuanya terus berlanjut.
“Bu Warsi, tolong jangan berdebat. Biarkan masalah yang kami hadapi, bisa selesai dengan baik.” Andini menangis dan memohon agar tidak ada keributan di tempat ini.
“Bu Dini, ini ada apa sebenarnya? Ada apa antara Ibu dengan Rayhan? Ini bukan hanya Pak Kepala Sekolah yang curiga, tapi para guru juga sudah curiga. Ada apa sih sma kalian? Bu Dini, Rayhan, cerita sama saya! Jangan selesikan ini sendiri kao memang kalian gak mampu.” Bu Warsi menatap kedua orang itu secara bergantian.
“Bu, saya gak akan cerita sampai waktunya pas,” ucap Andini.
“Bu Dini pasti malu. Bu Dini pasti malu dengan statusnya. Kalo Ibu mau, mending gak perlu melakukan hal konyol seperti itu.” Rayhan langsung menjawab dan Andini hanya bisa diam dan meneteskan air mata.
“Rayhan, bisa diam sebentar gak sih? Biarkan Wali kelas kamu ini bicara,” ucap Bu Warsi yang mulai emosi dengan ulah salah satu siswanya.
“Bu Warsi gak usah ikut campur.”
“Cukup, Rayhan! Kalo kamu seperti ini terus, saya bisa rekomendasikan kamu untuk dapat hukuman ke pihak Tata Tertib. Kamu bia saja dikelurkan dari sekolah ini.” Andini yang mendengar apa yang baru saja diucapkan Bu Warsi hanya bisa menggeleng.
“Itu yang diharapkan Bu Dini. Saya dikeluarkan dari sekolah ini adalah harapan dari Bu Dini.” Rayhan dengan lantang mengatakan itu. Andini hanya bisa menggeleng dan tidak tahan dengan perdebatan entah sampai kapan.
“Rayhan.” Bu Warsi ingin memberi sebuah hukuman dan Andini menahan agar tidak ada hukuman apapun yang Rayhan terima hari ini. Semua yang Rayhan lakukan memang sudah keterlaluan, tapi Andini tidak bisa membiarkan Rayhan mendapat hukuman atas ulahnya. Dia akan semakin merasa bersalah jika Rayhan harus dihukum.
“Bu Warsi, saya mohon janga ancam dan hukum Rayhan seperti itu.”
Bu Dini, ini sudah keterlaluan. Rayhan ini ulahnya sudah keterlaluan sama Ibu. Kalo dibiarkan, akan jadi seperti apa nantinya? Bu Dini ini wali kelasnya Rayhan dan gak pantas Rayhan melakukan hal itu pada wali kelasnya sendiri.” Andini menggeleng.