Hari Dimana Aku Menjadi Perwujudan Keberuntungan

Cornelius Zii
Chapter #3

Semester 1.3 - Langkah Awal

Disamping murid laki-laki itu ada seorang gadis berambut blonde yang memeluk lengannya. Mereka tertawa dan tersenyum ketika berjalan.


Namun ketika murid laki-laki tersebut melihat wajah Rondo, ekspresi murid laki-laki itu pun berubah menatap dengan wajah Rondo sinis.


Rondo menatap mereka balik dengan tajam. Namun, mereka cepat-cepat tidak menghiraukan Rondo dengan berbalik ke depan dan berjalan kembali. Tira yang sedari tadi mengoprek Rondo melihat wajah Rondo yang masih memerhatikan langkah murid laki-laki tersebut dan si cewek blonde.


"Ada apa? Kamu kayak fokus banget merhatiin seseorang," tanya Tira sambil menatap Rondo.


Rondo kemudian tersadar dari fokusnya.

"Ah, enggak. Hanya aja aku merasa aneh sama kedua orang itu," balas Rondo.


"Oh, begitu, kah? Kau mulai benci seseorang disini?" tanya Tira lagi. Tangannya masih mengoprek Orla milik Rondo.


"Nope, bukan benci. Aku cuman merasa aneh aja sama mereka," balas Rondo dengan yakin.


"Hum... apa kau benci orang populer?"


"Enggak juga. Sudah kubilang aku bukan benci, tapi janggal sama mereka."


"Halahh, kau pasti benci vibes orang populer, kan? Gapapa, jujur dan akui saja. Aku juga begitu, kok."


Tira tertawa sejenak. Rondo ikut tertawa juga dengan canggung.


"Memangnya mereka ini populer, ya?" tanya Rondo.


"Kau tahu engga? Cowok dan cewek itu waktu jalan ke Food Court, murid-murid lain pada memerhatikan mereka. Mereka berjalan kaya model dan selalu bersebelahan. Si cowok itu, banyak cewek-cewek yang naksir sama dia karena ganteng dan tinggi. Si cewek juga banyak cowok-cowok yang naksir sama dia karena cantiknya." jelas Tira dengan bisik-bisik dan memerhatikan langkah si murid laki-laki dan si cewek blonde dari kejauhan.


"Begitu, ya..."


Tira tersenyum. Ia menghentikan tangannya yang sedang mengoprek Orla Rondo.


"Kau tahu, sesekali ada situasi dimana kau harus jujur pada dirimu sendiri. Aku juga begitu awalnya—benci pada kejujuran karena malu. Tapi, ya... mau sampai kapan kau ingin menyenangkan orang lain, kan?," ucap Tira.


Rondo menatapnya. "Kau janji gak akan jadi perempuan ember bocor?"


Tira tersenyum lalu mengacungkan jari kelingkingnya. "Aku janji."


Rondo sempat melirik kelingking itu, bingung. Lalu tanpa pikir panjang, ia menutupi seluruh jemari Tira dengan telapak tangannya sendiri.


"Dasar alien, pinky promise aja kau gak tahu. Ahh, sudahlah. Omong-omong, selamat ya sekarang Orla mu bisa motret pakai kamera," ucap Tira seraya melepas genggaman Rondo.


"O-oh, iyakah? Makasih, ya, ahaha."


"Ya sudah, aku pulang dulu. Aku sudah ngantuk. Dahh," ucap Tira sambil melambai-lambaikan tangannya pada Rondo.


Rondo melambaikan tangannya juga pada Tira. Rondo mengecek UI Orla-nya yang kini sudah tersedia menu 'kamera'. Ia membuka kamera tersebut, kemudian secara tak sengaja memotret Tira dari jauh yang sedang berjalan pulang. Hasil fotonya muncul. Rondo panik ingin menghapusnya. Namun, ia tak tahu bagaimana caranya. Akhirnya ia pun menutup UI Orla-nya begitu saja, kemudian berjalan pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, ia menyalakan lampunya, kemudian ia langsung tertidur di bantal empuk putih saking lelahnya.


---


Lihat selengkapnya