Hari Dimana Aku Menjadi Perwujudan Keberuntungan

Cornelius Zii
Chapter #4

Semester 1.4 - Geng Kecil

Siapa dia?


Kenta kemudian menepuk pundak Rondo.


"Hey, kau ada waktu? Mau coba jalan-jalan disekitaran distrik disini enggak?"


Kenta kemudian melihat kalau Rondo sedang melirik Tira dan seorang gadis disampingnya langsung notice sesuatu.


"Oh, aku paham. Semoga berhasil, ya," ucap Kenta sambil berjalan keluar pintu.


Rondo kemudian menyadari dirinya sedang melamun. Ia mengejar Kenta yang jaraknya tidak jauh darinya.


"Hei, tunggu-tunggu. Kau tadi bilang mau eksplor distrik-distrik disini ya? Ayo."


Kenta menghentikan langkahnya. Ia langsung membalikan badannya dan menghadap melihat Rondo. Ia mengernyitkan keningnya.


"Kenapa? Kau tidak jadi mepet cewek itu?"


Rondo bingung dengan maksud Kenta.


"Maksudmu... mepet gimana? Aku tadi cuman liat mereka ngobrol aja," jelas Rondo dengan yakin.


"Eh, tapi kau menatap mereka lama tadi? Jelas sekali kau mungkin mau menggebet salah satu dari mereka," balas Kenta dengan tawa tipis.


"Ahaha, enggak juga lah, ada-ada saja. Mendingan kita eksplor distrik-distrik disini. Pasti ada yang menarik."


"Haduh... salah paham ya, ternyata. Ya sudahlah."


Tidak terlalu jauh mereka berjalan, mereka melihat beberapa murid sedang sibuk berolahraga. Rondo dan Kenta mengelilingi lapangan yang berbeda-beda. Di setiap lapangan ada yang sedang bermain basket, voli, tenis, dan juga sepak bola. Setelah melihat lapangan hijau dengan cahaya matahari yang menyorot cukup terik pada tubuh mereka, mereka pun pergi ke gym.


Disana, beberapa murid juga sedang sibuk dengan dirinya masing-masing. Beberapa menit kemudian ketika Rondo dan Kenta sedang asyik mengobrol, seseorang baru saja keluar dari tempat ganti pakaian. Ia berdiri di samping Rondo.


"Hei, kalian mau ikut fitness juga, nih?" tanya orang tersebut pada Rondo dan Kenta. Kaki dan tangannya aktif bergerak-gerak sedikit.


Kenta kemudian menoleh dengan cepat pada orang tersebut. Wajah orang tersebut agak bulat, giginya begitu rapih dan bersih, badannya fit dan agak berisi. Tingginya setara dengan Kenta. Rambutnya bergaya french crop.


"Theo? Kau nge-gym nih? Rajin amat," tanya Kenta dengan sedikit tawa.


"Oh, harus. Kapan lagi olahraga saja bisa membayarku," balas Theo.


Rondo menoleh beberapa kali pada mereka berdua dengan ekspresi yang heran.


"Kalian saling kenal ya, ternyata?"


Theo kemudian menoleh pada Rondo. Matanya langsung terfokus pada nama yang berkedip-kedip terpampang di jas Rondo.


"Oh, hai e... Rondo. Aku Theo. Kau mau ikut fitness juga, tidak?"


Rondo kemudian menolehkan pandangan dia ke depan. Terlihat murid-murid lain ada yang sedang angkat beban, berjalan di treadmill, dan ada juga yang sedang fokus dengan leg press machine. Beberapa dari mereka ada yang teriak agak kencang. Ada juga yang santai dan diam.


Ia kemudian menolehkan pandangannya kembali dan menatap Theo.


"Anu, kayanya aku kapan-kapan aja. Mungkin Kenta mau coba tuh, ehehe," ucap Rondo dengan senyum canggung.


"Menarik, tapi aku juga kapan-kapan aja kayanya," sambung Kenta.


"Oh, baiklah. Kalau gitu aku duluan, ya. Dan hei, Rondo, bajumu agak kusut tuh. Kau juga mungkin butuh parfum dan sabun cuci muka supaya wajahmu tampak segar lagi," ucap Theo sambil menatap Rondo dari kepala sampai ujung kaki. Setelahnya, ia langsung berjalan ke alat treadmill.


Rondo yang mendengar ucapan Theo seketika langsung menciumi keteknya.


"Emangnya, aku bau, ya?" tanya Rondo pada Kenta.


"Aku gak tahu. Tapi si Theo ini memang orangnya dia peduli banget dengan kebersihan. Kalau kau bau banget, mungkin dia bukan bilang seperti itu lagi—dia mungkin malah enggan ngobrol dengan kamu," ucap Kenta sambil melangkah pelan keluar gym.


Rondo mengikuti langkah disampingnya.


"Jadi, standar kebersihan dia beda ya dari orang kayak aku?"


"Kurang lebih, begitu."


Keluar dari gym, mereka mencoba melangkah agak jauh lagi dari distrik itu. Setelah beberapa menit berjalan, mereka menemukan gedung super besar di samping mereka. Jaraknya cukup dekat, bentukan gedungnya begitu rapih dengan 4 pilar yang menopang bagian depannya. Ada irama-irama musik merdu disertai paduan suara yang membuat telinga begitu nyaman.


Semakin Rondo dan Kenta mendekat, suara tersebut semakin terdengar sangat jelas. Pintu gedung tersebut agak besar. Mereka mendekati pintu tersebut. Disampingnya, ada pelang elektrik bertuliskan 'Music District'.


Begitu langkah kaki mereka menapak pada bagian terdekat pintu gedung, pintu tersebut mulai terbuka pelan-pelan secara otomatis. Derit pintunya bisu tidak terdengar. Cahaya yang menyoroti isi gedung mulai terlihat perlahan-lahan.


Begitu pintu sudah terbuka sepenuhnya, mereka mulai memasuki gedung tersebut. Banyak sekali barang-barang mewah dan antik sebagai dekorasi di dalamnya. Ada lukisan-lukisan para musisi klasik legendaris yang terpajang dengan rapih.


Suara biola terdengar lirih begitu mereka memasuki lorong-lorong kecil. Semakin dalam, semakin jelas suaranya. Gesekan biola yang dilantunkan begitu rapih, teratur, dan sangat berirama.


Rondo dan Kenta sangat terkesima ketika melihat isi lorong kecil tersebut. Beberapa alat musik gesek terpajang dengan rapih dan bersih.


"Woahh, ini tampak kaya surga!" ucap Rondo dengan agak lantang. Suaranya sampai menggema seisi ruangan.


"Psstt! Kau jangan berisik. Tempat seperti ini emang surganya buat para musisi. Tapi anehnya, kenapa ya aku belum melihat gitar elektrik disini?" bisik Kenta sambil menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya.


Tangan Kenta mengelus-elus beberapa klarinet yang tertidur dengan rapih di sebuah box mewah. Rondo menoleh pada Kenta. Ia kemudian menampar pelan tangan Kenta.


"Kau juga jangan sentuh sembarangan, nanti mereka bisa marah dan kita kena hukum," kata Rondo bisik-bisik.


"Aneh kau ini, masa serba gak boleh disini?" balas Kenta dengan bisik-bisik.


"Kau sendiri kan yang bilang kalau ini surganya musisi? Kita bukan musisi, bahaya kalau ada yang kotor atau rusak," balas Rondo dengan bisik-bisik.


"Astaga... capek ah." Kenta berjalan keluar meninggalkan lorong kecil tersebut.


Rondo yang tertinggal agak jauh mengikuti langkah Kenta keluar lorong tersebut. Mereka berdua juga kemudian langsung keluar gedung tersebut.


Mereka berjalan meninggalkan gedung tersebut cukup jauh. Setelah berjalan cukup lama, mereka bertemu gedung besar dengan penuh lampu neon. Musik EDM dan suara-suara efek begitu terdengar sangat terdengar dengan jelas di telinga mereka berdua. Beberapa murid berlalu lalang keluar masuk tempat tersebut.


Rondo dan Kenta mulai melangkah memasuki gedung besar tersebut. Orla milik mereka berdua berkedip-kedip.


[Suara sistem]

Lihat selengkapnya