Hari Dimana Aku Menjadi Perwujudan Keberuntungan

Cornelius Zii
Chapter #7

Semester 1.7 - Cahaya dan Bayangan

"Ya, aku dari tadi memang dari tadi lawan dia. Tapi anehnya, meski sudah kutusuk dan potong beberapa bagian tubuh dia, tubuh dia bisa tumbuh lagi," jawab Rondo.


Tira terkejut mendengarnya. Mata dia melotot tidak percaya mendengar perkataan Rondo.


Setelah beberapa menit Tira menyembuhkan Rondo dengan sihir penyembuhannya, Tira pun berdiri. Luka-luka yang berada di tubuh Rondo perlahan-lahan mulai pulih.


"Aku akan pergi ke sana sekarang untuk bantu Kenta. Kamu nanti mau menyusul?" tanya Tira pada Rondo.


"Ya, aku nanti pasti bakal menyusul. Terimakasih sudah bantu," jawab Rondo sambil pelan-pelan mencoba bangkit.


"Baiklah kalau gitu, aku pergi dulu," kata Tira sambil memegang tongkat sihirnya. Ia pun meninggalkan Rondo.


Mata Rondo melihat sekelilingnya dengan penuh perhatian. Ia mencoba mencari-cari pedangnya yang tadi sempat hilang. Beberapa daun gemerisik. Rondo mencoba mendekat. Semakin ia mendekat... semakin jelas suaranya.


Dari situ muncullah seekor babi hutan bayangan yang hampir menyergap wajahnya. Rondo mencoba memukulinya dengan tangan kosong. Babi hutan bayangan itu menatap tajam Rondo, Rondo menatap tajam kembali babi hutan bayangan itu. Tak lama setelah itu, babi hutan bayangan tersebut mulai mencoba menyerang Rondo, namun Rondo menendangnya dan memukulnya dengan sangat keras hingga terpental.


Rondo kemudian berlari menghindari babi hutan bayangan tersebut. Babi hutan bayangan tersebut mengejar-ngejar Rondo dengan cukup cepat. Di tengah-tengah perjalanan, Rondo terjatuh oleh sesuatu. Tubuhnya terhempas ke tanah dan suara besi yang dia injak terdengar cukup kencang. Rondo terbatuk-batuk oleh debu yang beterbangan. Ia pun melihat di depannya ada pedang yang ia cari-cari—Excalibur.


Ia mengambil pedang tersebut, lalu memegangnya dengan erat-erat. Kemudian, ia berlari balik mengejar babi hutan bayangan itu. Babi hutan bayangan itu lari terbirit-birit ketakutan oleh Rondo. Namun tiba-tiba...


*Blast!


Rondo seketika menoleh pada arah energi yang ditembakkan oleh seseorang itu.


"Kau sudah pulih, kan? Sebaiknya kau sekarang bantu kita," kata Tira dari jarak yang tidak jauh dari Rondo.


"Baiklah," balas Rondo. Tira pun berlari menuju arah Giganoa. Rondo ikut berlari mengikutinya dari belakang.


Saat Tira dan Rondo tiba di depan Giganoa yang sedang mengamuk ke arah Kenta, Tira langsung memanggil-manggil Kenta. Kenta menoleh kepadanya sebentar, lalu fokusnya beralih kembali ke Giganoa.


"Maaf, aku lagi sibuk," teriak Kenta sambil mencoba memanah jari-jari Giganoa dengan panah api. Jari-jari Giganoa tersebut terbakar dan sempat lenyap. Namun, jari-jari itu tumbuh kembali beberapa detik kemudian.


Rondo memerhatikan Kenta yang sedang menghadapi Giganoa itu dengan penuh fokus.


Kalau tubuhnya cepat beregenerasi dan hampir tidak mempan dengan serangan-serangan kecil. Maka...

batin Rondo, wajahnya penuh perhatian pada serangan Kenta pada Giganoa.


"Tira, bisa jaga aku dari jauh?" tanya Rondo. Wajahnya menoleh pada Tira.


Tira menoleh pada Rondo.


"Bisa, memangnya kau mau apa? Kau mau nekat?" tanya Tira kembali.


"Bisa dikatakan seperti itu, tapi semoga ini berhasil," kata Rondo sambil berlari menuju Giganoa.


"Hei tung— astaga main lari begitu saja, dasar alien. Semoga ide konyol dia berhasil," kata Tira dengan nada sebal. Matanya menatap Rondo yang berlari-lari dari kejauhan.


Rondo mencoba berlari dan melompat pada satu pohon ke pohon lain yang lebih tinggi. Kakinya hampir saja tergelincir akibat bobot armornya yang agak berat. Namun, ia fokus kembali berlari dan melompat dari satu pohon ke pohon tinggi lainnya kembali.


Semakin Rondo berlari dan melompat begitu jauh, semakin ia dekat dengan jarak Giganoa. Langkahnya terhenti di dahan pohon tebal dengan posisi yang tinggi. Nafasnya terengah-engah. Ia menatap ke depan sudah tidak ada pijakan dari dahan pohon lainnya, hanya pundak Giganoa. Dari situ, ia pun mencoba melompat untuk sampai ke pundak Giganoa.


Ketika tubuhnya sudah melayang di langit tanpa pijakan apapun, Rondo langsung mengambil pedang dari saku kanannya. Lalu, ia menancapkan pedangnya pada bahu Giganoa tersebut. Giganoa tersebut langsung berteriak merengek kesakitan. Giganoa itu menoleh pada Rondo, kemudian mencoba mengambil Rondo dengan tangannya. Namun, Tira langsung menembakkan energi sihir pada tangan Giganoa tersebut melalui tongkatnya, sehingga tangan Giganoa tersebut tidak bisa meraih Rondo.


"Mau nyentuh apa kau, hah?" teriak Tira dengan sombong pada Giganoa tersebut.


Kenta menurunkan busurnya, kemudian menatap Rondo yang berdiri di atas pundak Giganoa sedang mencabut kembali pedangnya yang tertancap. Ia tersenyum tipis melihat Rondo.


Beberapa saat kemudian, Rondo berhasil mencabut pedangnya yang sempat tertancap di tubuh Giganoa tadi.


Lihat selengkapnya