Setelah suasana emosional tadi perlahan mereda,kami duduk berdampingan di sofa ruang tamu yang sederhana.
Kotak donat yang tadi dibawa Nada kini sudah terbuka di atas meja,menyebarkan aroma manis cokelat dan gula halus yang menggugah selera. Di sampingnya,dua gelas kopi masih mengepulkan uap tipis.
Nada mengambil satu donat dengan topping keju,lalu menyodorkan kotak itu padaku. "Ayo dimakan,jangan cuma dipelototin motor barunya," godanya sambil tertawa kecil,sisa-sisa air mata di sudut matanya sudah mengering,berganti dengan binar jenaka yang biasa kulihat.
Aku mengambil donat cokelat kacang dan menggigitnya pelan. Teksturnya lembut,jauh lebih enak daripada kue tart mana pun bagi lidahku.
Kami sempat bercanda ringan tentang Mang Odoy yang katanya hampir jantungan saat pertama kali mengajariku naik motor karena aku terlalu bersemangat menarik gas. Tawa Nada meledak saat aku mempraktikkan ekspresi panik Mang Odoy,menciptakan momen yang sejenak melupakan ketegangan tadi.
Namun,di sela kunyahan donat itu,Nada kembali menatapku dengan sorot mata yang lebih dalam. "Jadi, apa rencana kamu selanjutnya,Ri?" tanyanya dengan nada yang mulai serius.
Aku menyeruput kopi hitamku sebentar sebelum menjawab. "Ya seperti biasa,menulis banyak hal dan mungkin dalam waktu dekat aku mau ketemu ayah kamu."
Nada terdiam. Ia meletakkan sisa donatnya kembali ke kotak, lalu menatapku lekat-lekat. "Oo gitu,tapi gimana kalau aku ngelarang,Ri?"
Alisku bertaut heran. Kunyahanku terhenti. "Kenapa kamu larang aku,Nil?"
"Gini deh! Aku punya satu permintaan atau lebih tepatnya syarat sebelum kamu ke rumah," ucap Nada. Ia menggeser posisi duduknya agar lebih menghadap ke arahku.
"Apa itu?" tanyaku penasaran sekaligus waswas.
"Aku mau kamu nemuin dulu mama kamu dan perbaiki hubungan kamu dengannya,Ri."
Deg. Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibir Nada,namun dampaknya bagaikan hantaman keras di dadaku.