Hari Dimana Ceritanya tentang kita

E. Karto
Chapter #16

Irus Lilyanti Nil


Kehamilan Nada membawa warna baru dalam rutinitas harian kami. Rumah minimalis kami kini tidak hanya dipenuhi suara tawa,tapi juga persiapan-persiapan kecil untuk menyambut kehadiran anggota baru.


Setiap pagi,sebelum aku berangkat kerja untuk mengejar berita atau sekadar memantau kantor,aku punya ritual baru yang tak boleh terlewatkan.


"Berangkat dulu ya,Nil," pamitku sambil membungkuk,mencium keningnya dengan lembut. Nada yang masih sedikit mengantuk efek samping kehamilan yang membuatnya lebih sering butuh istirahat tersenyum tipis dan memegang tanganku.


Tak berhenti di situ,aku berlutut di depannya. Kusibakkan sedikit daster longgarnya dan mendaratkan satu ciuman tulus di perutnya yang masih tampak rata. "Ayah berangkat dulu ya,jagoan. Jagain Bunda di rumah," bisikku. Nada biasanya akan tertawa kecil,mengelus rambutku dengan gestur yang sangat menenangkan.

***

Momen yang paling tidak bisa kulupakan adalah saat pertama kali kami pergi ke dokter untuk melakukan USG. Di dalam ruang periksa yang dingin dan beraroma antiseptik,jantungku berdegup kencang,mungkin hampir menyamai kecepatan detak jantung janin yang sedang kami nantikan.


Dokter mengoleskan gel dingin ke perut Nada,lalu menggerakkan alat pemindai itu dengan perlahan. Awalnya hanya terlihat bayangan hitam putih yang abstrak di layar monitor.


"Nah,ini dia. Lihat yang berkedip kecil ini? Ini detak jantungnya," tunjuk dokter dengan tenang.


Mataku membelalak. Ada sesuatu yang berdenyut di sana. Kecil sekali,namun kekuatannya sanggup meruntuhkan pertahanan mentalku.

Aku melirik ke arah Nada; air mata sudah mengalir di pipinya,tangannya menggenggam erat jemariku. Tak ada kata-kata yang keluar,hanya rasa syukur yang meluap-luap.

Makhluk kecil ini adalah bukti nyata cinta kami yang kini punya detak jantungnya sendiri.

***

Malam hari adalah waktu kerjaku yang paling intens. Sebagai penulis berita sepak bola,begadang adalah kewajiban,terutama saat liga-liga Eropa sedang panas-panasnya.


Di ruang tengah yang remang,aku duduk di depan laptop dengan televisi yang menyala,menampilkan pertandingan big match. Di sebelahku,Nada selalu setia menemani,meski ia seringkali kalah oleh rasa kantuknya.


Aku menoleh sejenak dari layar laptop dan mendapati Nada sudah tertidur pulas. Kepalanya bersandar di bahuku,napasnya teratur dan tenang. Tangannya secara refleks memeluk lenganku,seolah takut aku akan pergi jauh.

Lihat selengkapnya