Jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya,keringat dingin bercucuran di sekujur tubuh,juga perut yang tiba-tiba mules tak karuan. Setidaknya itu yang ada dalam bayanganku tentang apa yang akan aku alami sore itu tatkala pertama kali bertemu dengan calon mertuaku,alias orang tua Nada.
Khayalan bagaimana tatapan tajam seakan ingin menerkam dari ayahnya,atau tatapan sinis ibunya ketika melihat sosok pemuda yang datang meminta izin untuk membawa putri tercintanya jalan-jalan,terus menghantui pikiranku.
Uugghhh... fantasi yang sangat mengerikan bagi laki-laki mana pun.
Untungnya bagiku,itu semua hanya ada dalam imajinasiku saja. Entah karena aku yang terlalu banyak berpikiran aneh-aneh atau memang semesta sudah berkehendak,apa yang terjadi sore itu sangat berkebalikan dengan apa yang aku bayangkan.
Ya,pada awal pertemuan dan awal obrolan,memang tatapan tajam itu ada. Ayah Nada duduk tegak,memperhatikanku dari atas sampai bawah dengan selidik yang membuat nyaliku menciut. Apalagi saat itu aku datang saat Nada tak ada di rumah karena sedang keluar dengan ibunya. Aku benar-benar sendirian di "kandang singa".
Untungnya,tatapan dan pertanyaan sinis itu tak bertahan lebih dari lima menit. Tepatnya,suasana mencair seketika setelah aku menjawab pertanyaan tentang siapa orang tuaku. Saat itu,aku sangat bersyukur memiliki sosok bapak yang ternyata dikenal bukan hanya sebagai preman,tapi juga seorang pesepak bola yang cukup terkenal di daerahku.