Aku berdiri terpaku di depan pintu,memerhatikan Nada yang sedang sibuk dengan persiapannya.
Perpaduan dress hitam dan celana jeans dalam balutan hijab kekinian yang aku tak tahu apa namanya menjadi pilihannya sore itu. Tak lupa,sneakers hitam yang sudah agak belel kesayangannya terpasang di kakinya. Kombinasi yang mungkin terdengar aneh bagi pengamat busana itu,entah kenapa terasa sangat cocok di tubuhmu,Nil.
Entah karena kamu yang selalu percaya diri dengan gaya apa pun,atau memang aku yang sudah sangat merindukanmu hingga mataku terpesona tanpa peduli apa pun yang menempel di tubuhmu.
"Ayo Ri,kita berangkat!" ucap Nada. Ia berdiri tegak setelah selesai mengikat tali sepatunya,lalu melakukan gerakan memutar kecil seolah memamerkan penampilannya.
"Masya Allah..." gumamku tanpa sadar. Mulutku sedikit menganga,mataku tak berkedip menatap sosok di depanku.
"Hah! Apa Ri?" Nada memiringkan kepalanya,menatapku dengan mata bulatnya yang jernih.
"Kamu cantik banget,Nil!"
"Hah? Apa kamu bilang?" tanya Nada sekali lagi. Ia memajukan wajahnya,memasang ekspresi tak percaya seolah sedang memastikan bahwa pendengarannya tidak salah tangkap.
"Kamu cantik,Nil!!" ulangku dengan suara yang sedikit lebih lantang dan tegas.
"AAAAAAAAAAAAA!!!!"
Nada berteriak kencang sambil menutup kedua pipinya dengan telapak tangan. Wajahnya yang kuning langsat seketika berubah menjadi merah padam hingga ke telinga. Ia berjingkrak kecil,seolah-olah baru saja memenangkan lotre paling berharga di dunia.
Mendengar teriakan Nada yang tiba-tiba dan melengking itu,jantungku nyaris copot. Aku panik luar biasa. Sontak,Ayah dan Ibu Nada langsung berlari keluar dari kamar mereka dengan wajah tegang,menghampiri kami di ruang tamu.
"Kenapa sayang? Ada apa? Ada kecoa?" tanya ibunya panik sambil memegangi bahu Nada dan memeriksa sekujur tubuh putrinya. Sementara itu,ayahnya berdiri di sampingku dengan tatapan waspada,siap siaga menghadapi ancaman.