Hari Dimana Ceritanya tentang kita

E. Karto
Chapter #12

Malam terakhir dan otak yang lemot


Matahari bulan Maret menyambut kami dengan hangat saat motor matic kesayanganku terparkir di depan sebuah toko perhiasan legendaris.

Persiapan pernikahan ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang kubayangkan,namun anehnya,setiap tetes keringat terasa seperti investasi kebahagiaan.

"Ingat ya Ri,jangan yang terlalu mewah. Yang penting pas di jari dan bermakna," bisik Nada sambil menarik ujung jaket coklatku,mengingatkanku untuk tetap pada anggaran yang sudah kami susun bersama.

Kami masuk ke dalam toko yang sejuk. Aroma parfum ruangan yang elegan langsung menyambut. Di balik etalase kaca,ratusan cincin berkilauan terkena lampu sorot,namun mata kami langsung tertuju pada sepasang cincin perak dengan desain yang sangat sederhana hanya satu garis melingkar tanpa banyak hiasan batu permata.

"Coba yang ini,Nil," ucapku sambil meminta pelayan toko mengeluarkan sepasang cincin itu.

Nada memasukkan cincin itu ke jari manisnya. Ia merentangkan jemarinya,memerhatikannya dari berbagai sudut dengan mata yang berbinar. Gesturnya begitu lembut,seolah ia sedang membayangkan hari di mana cincin itu akan menetap di sana selamanya.

"Gimana? Pas?" tanyaku.

"Pas banget,Ri. Kayak memang dibuat untuk aku," jawabnya dengan senyum manis yang membuatku sekali lagi menyadari betapa beruntungnya aku.

Aku pun mencoba cincin pasangannya,dan ya,lingkaran kecil itu terasa seperti pengikat tak kasat mata yang mulai mengunci komitmen kami.

Setelah urusan cincin selesai,petualangan berlanjut ke pasar kain dan toko perlengkapan pernikahan. Tangan Nada tak lepas menggenggam sebuah buku catatan kecil buku yang dulu penuh dengan coretan tulisanku,kini berubah menjadi daftar belanja kebutuhan akad dan resepsi.

"Ri,liat deh bahan yang ini! Cocok gak buat seragam uwa sama saudara kamu nanti?" Nada memegang selembar kain brokat berwarna biru langit, mendekatkannya ke wajahku untuk meminta persetujuan.

"Cocok Nil,apa pun yang kamu pilih aku percaya. Selera kamu kan selalu juara," jawabku jujur. Aku memerhatikan wajahnya yang sedikit kelelahan namun tetap penuh semangat. Sesekali ia mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan,lalu kembali fokus membandingkan warna kain.

Kami juga menghabiskan waktu berjam-jam memilih desain undangan. Di sebuah percetakan kecil,kami duduk berhimpitan menghadap layar monitor.

"Font-nya yang ini aja Ri,lebih tegas tapi tetep lembut. Kayak kamu," godanya sambil menyenggol lenganku.

Lihat selengkapnya