Hari Dimana Ceritanya tentang kita

E. Karto
Chapter #17

Bayang-bayang yang tak terlihat


Aku bersyukur atas semua kebahagiaan yang terjadi setahun terakhir.

Kebahagiaan yang teramat sangat,yang tak pernah kurasakan seumur hidupku. Perbaikan hubungan dengan Mama,menikahi Nada,hingga kelahiran Irus sungguh menyempurnakan kehidupan impianku.


Namun,semua kebahagiaan itu membuatku terlena. Aku hampir melupakan satu hal besar yang akan terjadi. Kejadian yang seharusnya sudah kupersiapkan dan kuantisipasi sejak panggilan telepon hari itu.


Maret 2020


Suasana pagi di dapur kami terasa sedikit berbeda. Tidak ada lagi candaan tentang "Irus linmas Cipanas". Aroma nasi goreng tercium,namun ada raut kecemasan yang menggantung di wajah Nada saat ia mengaduk penggorengan.


"Jadi gimana,Sayang? Menurut kamu tentang kita pakai uang tabungan untuk sementara? Dari awal tahun kamu belum dapat job lagi,kan?" ucap Nada perlahan. Ia meletakkan piring di meja,lalu menatapku dengan tatapan yang sangat hati-hati.


"Jangan dulu,Sayang! Itu tabungan untuk dana darurat," jawabku cepat,mencoba terdengar tegas meski di dalam hati aku mulai menghitung sisa saldo yang kian menipis.


Nada duduk di depanku,tangannya memegang sendok tapi tidak berniat makan. "Memangnya sekarang belum darurat? Aku lihat di berita,virus Corona sudah masuk negara kita loh! Aku sih bukannya meremehkan kamu,tapi kalau kondisi jadi pandemi,aku gak yakin kamu bakal dapat job nulis dalam waktu dekat. Semua liga dihentikan,Ri."


Aku tertunduk,menatap meja kayu kami yang biasanya terasa hangat. "Maafin aku ya,Sayang... aku gak bisa pertahanin kehidupan indah seperti yang aku janjiin.Kamu sampai harus makan dengan kondisi seadanya begini."


Nada langsung meletakkan sendoknya,ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Eeehhh! Bukan gitu maksudku,Arteri Suteja... aku bersyukur banget sama semua yang kamu kasih ke aku. Maksud aku itu,aku gak keberatan kalau kamu mau pinjam mahar yang sudah kamu kasih ke aku untuk apa pun keperluan kamu. Aku gak nuntut lebih dari kamu,kok," sahut Nada sembari berdiri untuk menghidangkan secangkir kopi panas untukku.


Aku menatap uap kopi yang mengepul,merasa dadaku sesak oleh rasa haru sekaligus malu. "Makasih ya,Sayang. Tapi beneran,uang tabungan kita jangan sampai kepakai dulu. Aku insya Allah masih sanggup cari untuk sekadar kita makan sama untuk keperluan Irus," jawabku sambil meminum kopi itu,mencoba mencari kekuatan di balik pahitnya kafein.


"Tapi hati-hati ya,Sayang... kamu harus tetap jaga kesehatan. Kondisi di luar lagi gak baik-baik saja," Nada mengusap bahuku,matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.


"Pasti,Sayang."

Lihat selengkapnya