Hari Dimana Ceritanya tentang kita

E. Karto
Chapter #18

Paranoid


Depresi... Apa aku mengalami depresi?


Kenapa aku harus depresi di tengah semua kebahagiaanku bersama Nada dan Irus? Bukankah ini yang aku mau? Bukankah ini surga yang dulu hanya bisa kubayangkan? Tapi kenapa rasanya seperti ada lubang hitam di dalam dadaku yang siap menelan semua cahaya ini?


Seminggu sudah aku mengalami insomnia parah. Ya,memang sebelumnya aku lumayan sering kurang tidur karena harus menonton sepak bola atau menulis draf cerita,tapi yang kualami akhir-akhir ini berbeda.

Ini bukan tentang tuntutan pekerjaan; ini adalah tubuh yang menolak untuk memejamkan mata karena otakku terlalu takut untuk melepaskan pengawasan.


"Kamu gadang lagi,Sayang?" suara lembut Nada menghampiriku di ruang kerja yang hanya diterangi lampu meja temaram. Ia datang membawa segelas susu hangat dan beberapa camilan di atas nampan kecil.


"Ehh! Kenapa kamu belum tidur,Sayang?" sahutku terkejut,hampir saja menjatuhkan pulpen yang sedari tadi hanya kumainkan tanpa menulis satu huruf pun.


"Aku sudah tidur tadi,tapi pas sadar kamu gak ada di sebelah aku,jadinya aku langsung bangun," Nada meletakkan nampan itu, lalu berdiri di sampingku,menatap tumpukan kertas kosong di meja. "Kamu kenapa gak tidur,Sayang? Apa ada masalah yang lagi kamu pikirin? Kerja ojol lagi sepi?"


"Gak ada kok,Sayang. Aku lagi banyak inspirasi saja,mubazir banget kan kalau gak ditulis," jawabku refleks,tanganku sibuk merapikan buku dan pulpen yang sebenarnya tak kugunakan sebelumnya. Sebuah kebohongan mekanis yang keluar begitu saja.


Nada mengembuskan napas panjang. Ia mengusap pundakku,matanya mencari mataku yang mungkin sudah terlihat sangat kuyu dengan kantung mata yang menghitam. "Kamu sudah beberapa hari terakhir ini kurang banget tidur loh,Sayang... apa kamu gak bisa tidur karena mikirin perkataanku tentang uang tempo hari?"


"Enggak kok,Sayang. Percaya deh,aku gak kenapa-kenapa. Kamu jangan sampai stres karena mikirin aku ya," ucapku sambil berbalik memegang kedua pundaknya,mencoba memasang senyum paling meyakinkan yang bisa kubentuk.

Lihat selengkapnya