Pikirkan apa yang perlu dipikirkan,usahakan apa yang bisa diusahakan,syukuri apa pun yang terjadi. Nikmati setiap hari,jam,menit,bahkan detik dari semua momen yang terjadi.
Ya,aku hanya perlu melakukan hal sesederhana itu untuk bisa menikmati dan mensyukuri setiap momen dalam perjalanan hidupku yang sudah sangat layak untuk disyukuri. Membuang jauh-jauh rasa paranoid yang sempat mencengkeramku, dan kembali menapakkan kaki di bumi.
Ramadan di Tahun Pertama COVID-19
Ramadan... bulan yang sangat spesial bagi umat muslim di seluruh dunia. Di bulan yang suci ini,waktu terasa melambat,memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih baik,juga mendekatkan diri kepada Sang Pencipta yang sering kita abaikan saat kita sedang terlalu bahagia.
Ramadan kali ini terasa sangat istimewa bagiku dan Nada. Ini adalah Ramadan pertama kami sebagai sebuah keluarga mandiri. Maksudku, ini pertama kalinya kami menjalani bulan puasa di rumah sendiri,tidak lagi menumpang di rumah orang tua.
"Sahur mau makan pakai apa,Sayang?" tanya Nada suatu malam. Ia merebahkan badannya ke pelukanku saat aku sedang duduk bersandar di sofa sembari menonton TV. Aroma minyak telon dari tubuhnya bercampur dengan wangi sabun mandi,sebuah kombinasi yang selalu membuatku merasa tenang.
"Ya di dapur masih ada bahan apa saja,itu yang bakalan aku olah," jawabku santai sambil mengelus kepalanya yang terbalut hijab rumahannya yang nyaman.
"Kok kamu yang olah sih! Kan aku yang mau masakin untuk kamu," sahut Nada sembari melepaskan pelukannya dan duduk tegak,menatapku dengan mata bulatnya yang protes.
"Kamu kan capek ngurus Irus,Sayang. Lagian biasanya juga memang aku yang masak, kan?" aku mencoba membela diri. Sejak menikah,aku memang lebih sering turun ke dapur untuk urusan menggoreng atau menumis.
"Kamu juga kan pasti capek,Sayang. Kamu sudah kerja ojol seharian,nyuci baju,sampai beresin rumah tiap harinya. Masa masak juga masih harus kamu? Aku kan sekarang sudah normal,gak hamil dan gak habis lahiran lagi," Nada bersikeras,jemarinya memilin ujung gamis, memperlihatkan raut wajah yang sungguh-sungguh ingin berbakti.
Aku tersenyum,menariknya kembali ke pelukanku. "Itu memang tugas aku sebagai suami,kan? Tugas kamu itu cuma ngerawat Irus,putri kecil kita,sama ngejaga kehormatan keluarga kita. Ya... mungkin ditambah nyetrika,karena aku beneran gak bisa nyetrika, hehehe!"
"Iya sih,dari awal nikah kamu sudah bilang gitu. Tapi pokoknya gak bisa! Mulai sekarang dan seterusnya,biar aku yang siapin makan untuk kamu. Aku mau jadi istri yang berguna dan berbakti," ucapnya dengan nada final yang tidak bisa diganggu gugat.
"Ya! Ya! Terserah kamu deh," jawabku menyerah sambil tertawa kecil.