Everything is good,everything is okay...
Itulah mantra yang terus kuucapkan di dalam hati. Kalimat yang kupaksakan untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa benteng yang kubangun selama setahun terakhir ini cukup kokoh.
Semua bahagia,semua berjalan sangat baik. Melewati bulan Ramadan hingga Idulfitri dengan kesehatan tubuh dan mental yang jauh lebih baik dari sebelumnya adalah pencapaian yang luar biasa.
Aku masih ingat bagaimana kami melakukan mudik pertama sebagai keluarga kecil; berkumpul di rumah uwa dengan tetap menggunakan aturan pembatasan,tak seramai biasanya tapi rasanya sangat penuh.
Nada memasak opor ayam pertamanya,dan Irus terlihat sangat menggemaskan dengan baju Lebaran barunya yang sudah mulai kesempitan karena badannya yang makin "berisi".
Segalanya terasa stabil. Segalanya terasa aman.
But sometimes,everything can fall so fast...
Sangat cepat,hingga kita tak sanggup melakukan respons yang tepat untuk menghadapi perubahan yang datang secara tiba-tiba itu. Kecepatan jatuhnya kebahagiaan itu seringkali melampaui kecepatan logika kita untuk berpikir.
Setelah semua berjalan seakan-akan menjadi lebih baik,entah kenapa atmosfer di rumah kami mendadak berubah.
Udara yang tadinya hangat karena tawa Irus,kini terasa berat dan mencekam. Ada sesuatu yang bergeser dalam rutinitas kami,sebuah riak kecil yang awalnya kuanggap biasa,namun perlahan berubah menjadi ombak yang menghantam dadaku.
Aku duduk di bangku teras,menatap langit malam yang mendung. Tanganku gemetar tanpa alasan yang jelas. Kenapa perasaanku mengatakan bahwa detik ini adalah awal dari segalanya?
Apa kesalahan yang sudah kuperbuat?
Apa aku terlalu sombong dengan kebahagiaan singkat ini?
Atau memang ada hal yang benar-benar tak bisa diubah dalam kehidupan ini?