Waktu terus berjalan,namun rasanya seperti melambat di dalam lorong-lorong rumah sakit ini.
Berbagai tindakan medis dilakukan hari demi harinya. Mulai dari pengambilan sampel darah yang tak terhitung jumlahnya,infus yang silih berganti,hingga berbagai macam obat yang dimasukkan ke dalam tubuh Nada melalui selang-selang bening.
Tak terasa,hampir sebulan telah berlalu sejak pagi yang mencekam itu.
Kondisi kesehatan Nada bukannya menjadi lebih baik,melainkan terus menurun setiap harinya. Matanya yang dulu berbinar kini tampak kekuningan dan cekung.
Kulitnya pucat,dan tubuhnya yang dulu segar kini nampak ringkih tertelan pakaian rumah sakit yang longgar.
Sempat terpikirkan olehku untuk menyerah. Dalam kegelapan malam,pikiranku seringkali berbisik bahwa mungkin takdir Tuhan yang satu ini memang absolut dan tak bisa diubah.
Aku merasa seperti sedang melawan arus sungai yang sangat deras hanya dengan tangan kosong.
Namun,kehadiran sosok Irus merubah segalanya. Ia adalah secercah cahaya harapan di tengah badai yang tak kunjung usai.
Sore itu,aku membawa Irus masuk ke ruang perawatan setelah mendapatkan izin khusus. Keberadaan putri kecil kami yang sudah sebulan lebih ini kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya ternyata menjadi obat yang paling mujarab bagi jiwa Nada yang mulai lelah.
"Sayang... maafin Ibu ya... Ibu gak bisa ngerawat kamu," ucap Nada sangat lirih. Suaranya hampir tenggelam oleh desis mesin di samping tempat tidurnya.
Dengan gerakan yang sangat lambat,ia berusaha memegang tangan mungil Irus yang sedang kupangku.
"Gak apa-apa kok,Bu. Irus baik-baik saja sama Nenek. Ibu cepat sembuh ya,biar bisa main sama Irus lagi," sahutku, menirukan suara anak kecil dengan nada ceria yang dipaksakan,mencoba menghibur Nada.
Selaras dengan itu,seolah mengerti apa yang sedang terjadi,Irus merespons dengan tawa bahagianya yang sangat manis.
Kaki-kaki kecilnya menendang-nendang kegirangan saat melihat wajah ibunya. Seketika itu pula,air mata Nada langsung mengalir deras membasahi pipinya yang tirus.