Hari Dimana Ceritanya tentang kita

E. Karto
Chapter #24

Antara Wota dan senyum Cianjur


Lampu merah di atas pintu ruang operasi itu akhirnya padam. Suaranya yang pelan saat pintu otomatis terbuka terdengar seperti suara guntur di telingaku. Aku langsung berdiri,namun kakiku terasa kaku,terpaku di lantai selasar yang dingin.


Dokter utama keluar dengan masker yang sudah diturunkan ke leher. Wajahnya tampak sangat lelah,peluh masih membasahi dahinya,namun sorot matanya tidak membawa mendung.


"Keluarga Ibu Nada?" tanyanya pelan.


Aku,Ibu Nada,Mamaku,dan Khris langsung mengerumuninya dengan napas tertahan. Aku tidak sanggup bertanya,lidahku kelu,hanya mataku yang menuntut jawaban pasti.


Dokter itu tersenyum tipis,sebuah senyum yang menjadi pemandangan terindah yang pernah kulihat sepanjang hidupku. "Alhamdulillah,operasinya berjalan sukses. Organ barunya bisa diterima dengan baik oleh tubuh Ibu Nada."


"Alhamdulillah!!!"


Suara syukur itu menggema serempak dari bibir kami berempat. Ibu Nada langsung memeluk Mamaku sambil terisak hebat,namun kali ini itu adalah tangis lega.


"Tapi," lanjut Dokter,"Ibu Nada masih membutuhkan waktu untuk kembali sadar sepenuhnya. Efek anestesi dan kompleksitas operasi ini membuatnya butuh istirahat total dalam observasi ketat. Kita tunggu masa kritisnya terlewati dalam beberapa jam ke depan."


Mendengar kata 'sukses',beban seberat gunung yang selama ini menghimpit pundakku mendadak luruh. Kekuatan yang kupaksakan untuk bertahan sejak pagi tadi seolah menguap begitu saja.


Bruk!


Aku jatuh terduduk di lantai rumah sakit,menyandarkan punggungku ke dinding putih yang kaku. Napas kulepaskan dengan sangat panjang, seolah baru saja menghirup oksigen setelah tenggelam selama bertahun-tahun.

Di sebelahku,Khris pun melakukan hal yang sama. Anak muda yang tadi sangat tegar itu kini lemas,terduduk di lantai sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Aku bisa melihat bahunya berguncang.


"Kita berhasil,Khris... Kakakmu berhasil," bisikku parau.


Khris menoleh, matanya merah namun bersinar. "Iya,Bang.Teteh kuat banget."


Aku menatap langit-langit rumah sakit dengan pandangan kabur oleh air mata. 20 Juni. Tanggal yang tadinya kusembah sebagai simbol kematian,kini telah resmi kubaptis ulang menjadi tanggal perjuangan dan kehidupan.


Terima kasih,Ya Allah. Engkau benar-benar membelokkan takdir itu. Engkau memberikan kami kesempatan kedua yang sesungguhnya.


Nil... cepat bangun ya. Irus menunggumu. Aku menunggumu. Dunia yang baru sedang menanti kita di luar sana.

•••


Tahun 2014

Lihat selengkapnya