Habis gelap terbitlah terang,selepas badai pasti ada pelangi,atau setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
Semua kata-kata klise penyemangat yang dulu sering kudengar lewat telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan itu,kini akhirnya bisa kurasakan maknanya secara langsung.
Kalimat-kalimat itu bukan lagi sekadar bualan motivator,melainkan realitas yang sedang kupijak saat ini.
Setelah perjuangan panjang melawan penyakitnya,hari yang paling kunantikan pun tiba: Nada diperbolehkan pulang ke rumah.
Satu fase penting dalam hidup yang telah kupersiapkan sejak lama bahkan sejak hari pertama aku "terlempar" ke masa itu akhirnya berbuah manis.
Wanita yang paling kucintai itu kembali ke rumah dalam keadaan sehat.
"Selamat datang di rumah,Sayang!!" sambut Ayah,Ibu,Khris,juga Bapak saat aku membimbing Nada melintasi ambang pintu.
Keceriaan meledak memenuhi rumah kecil kami hari itu. Sesuatu yang hilang dalam beberapa bulan terakhir,sesuatu yang sempat terasa mati,kini hidup kembali dengan begitu benderang.
Ayah dan Ibu menyambut dengan kehebohan mereka yang khas,memeriahkan syukuran kecil-kecilan dengan hidangan sederhana yang aroma lezatnya memenuhi ruangan.
Tak ketinggalan pula Bapakku yang biasanya sangat sulit diajak kumpul keluarga turut duduk lesehan di ruang tengah,tertawa kecil mengisi keceriaan hari itu.
"Haaahhh!"
Setelah para tamu pulang,kubaringkan tubuh di kasur,melepaskan semua penat yang selama berbulan-bulan ini mengerak di otot-ototku. Rasanya beban itu menguap seketika begitu mencium bau sprei rumah yang familiar.
"Capek ya,Sayang..." ucap Nada lembut. Ia perlahan merebahkan tubuhnya di sampingku,menyandarkan kepalanya di lenganku. Wajahnya sudah jauh lebih segar,meski guratan lelah sisa operasi masih sedikit terlihat.
"Ya,aku lebih capek melihat kehebohan Ayah tadi sih,hehe!" sahutku sambil mengelus rambutnya yang kini terasa lebih halus.
Nada mencubit pelan pinggangku,bibirnya mengerucut gemas. "Hadeuh! Kamu selalu saja ngeledek Ayah."
"Siapa yang ngeledek sih? Itu fakta,hehehe!"
Suasana mendadak hening sejenak. Nada menatap langit-langit kamar kami dengan pandangan yang dalam. "Maafin aku ya,Sayang..." ucapnya lirih,jemarinya memainkan kancing kemejaku.