Hari Dimana Ceritanya tentang kita

E. Karto
Chapter #27

Nina dan lembaran baru

Nyanyian di Antara Garis Waktu.

Rumah kami mungkin tidak bertambah luas secara fisik,tapi ruang di dalamnya terasa semakin lapang karena dipenuhi cinta yang meluap-luap.

Irus kini bukan lagi bayi yang hanya bisa meronta di gendongan. Di usianya yang kelima,ia telah menjelma menjadi "nakama" kecil yang paling berisik sekaligus paling menggemaskan di seluruh Grand Line versi rumah kami.


Sore itu,sinar matahari senja menembus jendela,menciptakan panggung alami di karpet ruang tamu. Irus berdiri di atas kursi kecilnya,memegang botol minum sebagai mikrofon darurat.

"Ayo,Ayah! Bunda! Binks no Sake!" seru Irus penuh semangat.

Kami bertiga pun mulai bernyanyi. Suara kecil Irus yang belum terlalu lancar melafalkan lirik Jepang berpadu dengan suara beratku dan suara lembut Nada.

"Yo-hohoho, Yo-hoho-ho..."

Kami menyanyi sambil bergoyang kiri-kanan,meniru gerakan kru Topi Jerami yang sedang berpesta. Saat sampai di bagian lirik tentang perpisahan,Irus tetap bernyanyi dengan riang,tak peduli betapa sedihnya makna lagu itu. Baginya,musik adalah tentang kebersamaan.

"Nanti kalau Irus besar,Irus mau punya kapal kayak Luffy ya,Yah?" tanyanya setelah lagu usai,sambil terengah-engah.

"Boleh,Sayang. Tapi kaptennya harus nurut sama Bunda ya," jawabku sambil mengacak-acak rambutnya yang berkeringat. Nada tertawa,mencium pipi gembul Irus yang memerah karena semangat.


Malam harinya,setelah Irus terlelap dengan mimpi menjadi bajak laut,suasana rumah berubah menjadi lebih tenang dan intim. Aku memetik gitar akustik tua yang senarnya sudah mulai menghitam di beberapa bagian,sementara Nada duduk di sampingku,menyandarkan dagunya di bahuku.

Kami mulai menyanyikan lagu Cincin dari Hindia. Suara kami menyatu dalam harmoni yang rendah,seolah sedang berbisik pada semesta tentang janji-janji yang sudah kami penuhi.

"Semoga kita mencintai apa adanya walau katanya sekarang ku bisa masuk penjara..."

Lirik itu terasa sangat nyata sekarang. Kami tidak perlu lagi membayangkan,karena kami sedang menjalaninya. Dari masa-masa paranoid pasca-operasi hingga momen ini, setiap kata dalam lagu itu seolah menjadi saksi perjalanan kami.

Tanpa jeda panjang,aku mengganti kunci gitar ke nada yang lebih melankolis namun kuat, membawakan Everything You Are.

"Namun suratmu kan kuceritakan ke anak-anakku nanti bahwa aku pernah dicintai..."

Nada memejamkan mata, ikut bersenandung kecil. "Ingat nggak dulu kamu pernah takut banget aku kenapa-kenapa?" bisiknya di tengah lagu.

Aku menghentikan petikan gitarku sebentar,menatap matanya yang masih sama indahnya dengan sepuluh tahun lalu. "Setiap hari aku ingat,Nad. Tapi sekarang,ketakutan itu nggak lagi bikin aku sesak. Karena aku tahu,sesingkat atau selama apa pun waktu kita,memilikimu adalah kemenangan terbesarku."

Nada tersenyum,menyandarkan kepalanya di dadaku. "Kita sudah melewati banyak hal ya,Arteri. Dari Lightstick JKT48 sampai popok Irus. Dari ruang operasi sampai konser di Surabaya."

Lihat selengkapnya