Hari Dimana Ceritanya tentang kita

E. Karto
Chapter #29

Realita si raja malam



Desember 2024


Cahaya matahari sudah menyelinap lancang dari balik celah gorden kamar yang kusam. Perutku mulai terasa keroncongan,berbarengan dengan suara adzan Dzuhur yang menggema dari speaker masjid di ujung gang.


Kuperhatikan sekelilingku sejalan dengan terbukanya kedua mataku yang terasa berat.


Tembok berwarna putih kusam dengan poster buronan kru Topi Jerami yang ujungnya mulai mengelupas. Tumpukan kertas dan buku-buku lama yang tersusun berantakan di sebelah kasur tipis tanpa dipan. Gelas bekas kopi hitam yang sudah dingin,bersebelahan dengan asbak yang penuh sesak oleh puntung rokok murahan.


Ya... ini kamarku. Aku bangun di sini lagi. Di kontrakan sempit tempatku tinggal bersama Bapak.


Pemandangan familiar ini menjadi tanda berakhirnya mimpi indah yang memang terlalu indah untuk jadi kenyataan. Namun,inilah kenyataan. Halo duniaku yang menyebalkan,aku kembali lagi ke dalam pelukanmu yang dingin.


Aku menatap langit-langit kamar,mencoba mencari sisa-sisa wajah Nada atau tawa Irus,tapi yang ada hanyalah noda bekas bocoran air hujan. Aku adalah lelaki tak berguna,si pengangguran dengan skill minimalis,si sampah keluarga yang hidupnya tak jelas mau dibawa ke mana.


Seperempat abad kehidupan sudah kujalani,tapi entah masih adakah kesempatan untuk mencapai jaya bagiku saat ini. Semua mimpi,rencana, juga tujuan menjadi besar yang dulu sering kugembor-gemborkan,kini rasanya sudah tak menggiurkan lagi. Nafsu itu telah mati.


Mungkin semua ambisi itu sudah ikut terkubur bersamamu,Nada wanita yang satu-satunya selalu percaya bahwa kesuksesan akan datang padaku,bahkan saat dunia meludahiku.


Semua sesal dan kesal akibat kegagalan masa lalu kini hanya menjadi ilusi yang datang setiap malam. Mereka datang sebagai hantu yang mengganggu jam tidur,menjadikanku si raja malam tanpa tahta,tanpa mahkota.

Aku menghabiskan malam dengan berimajinasi tentang "bagaimana jika aku dikirim kembali ke masa lalu",lalu terbangun sebagai pecundang saat matahari sudah tinggi.


Siapa lelaki yang baru bangun ketika adzan Dzuhur berkumandang itu?


Ya,itu aku. Erri. Bukan Arteri Suteja sang jurnalis sukses yang heroik.


Aku hanyalah Erri,lelaki tanpa tujuan yang selalu terjebak dalam delusi masa lalu. Lelaki yang hanya bisa menciptakan kebahagiaan di atas kertas,karena di dunia nyata,aku sudah lama menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padaku.

Selamat datang kembali di kegagalan yang nyata, Erri.


•••


Aku melangkah menyusuri aspal jalan raya yang memuai oleh panas siang itu. Tanpa tujuan yang jelas,tanpa arah yang pasti.

Aku hanya ingin membuang sesak, mencoba melarikan diri dari bayang-bayang kesuksesan semu yang baru saja kutinggalkan di atas bantal kontrakan. Namun,ke mana pun kaki ini melangkah,duka seolah memiliki radar untuk tetap menemukanku.


Langkahku berakhir di sebuah rumah yang sangat kukenal rumah Uwaku. Tanpa banyak bicara,aku masuk dan merebahkan tubuh di atas kasur bekas kamarku dulu. Kamar yang pernah menjadi saksi bisu ambisi seorang remaja belasan tahun.


Kulihat sekeliling. Sunyi. Kondisinya masih sama persis seperti saat aku baru lulus SMA.


Kasur single bed yang pernya mulai terasa menusuk punggung,papan setrika yang dulu kupaksa menjadi meja kerja,hingga ban motor bekas di pojok ruangan yang sudah berdebu tebal.

Waktu seolah membeku di sini. Semuanya masih sama,kecuali satu hal: tidak ada lagi tumpukan bajuku yang menggunung di atas papan setrika,tak ada lagi kertas-kertas berhamburan di lantai hasil coretan kegelisahan malam sebelumnya.


Kamar ini sekarang hanyalah sebuah museum dari masa lalu yang gagal kubangun.


Sekilas,ingatan itu melintas tajam. Aku teringat saat-saat aku terbangun di kamar ini dulu,dengan jantung berdebar dan semangat yang meluap. Aku teringat jari-jemariku yang gemetar saat menekan tombol panggil di ponsel,hanya untuk menceritakan semua keluh kesah dan sampah pikiran yang kualami.

Lihat selengkapnya