Hari Dimana Ceritanya tentang kita

E. Karto
Chapter #31

Keikhlasan di ufuk timur



Langit sore itu berwarna jingga kemerahan,seolah ikut berduka dalam keheningan pemakaman yang luas ini.

Langkah kakiku terasa berat,terbenam sedikit demi sedikit di atas tanah yang lembap,namun ada sebuah kepastian yang mendorongku untuk terus maju. Aku melangkah mendekati segunduk tanah yang masih terawat,dengan sebuah batu nisan putih bertuliskan nama yang sangat kukenali.


Nama yang selalu menjadi kunci pembuka gerbang kenangan indah dalam hidupku.


Anehnya,meski setiap langkah menuju pusaramu terasa menyesakkan,entah kenapa beban di pundakku seolah luruh satu per satu. Seolah-olah gravitasi di tempat ini menarik keluar semua racun penyesalan yang selama lima tahun ini mengendap di dadaku.


Aku berlutut di samping gundukan tanah itu. Jemariku yang gemetar perlahan meletakkan setangkai bunga lili putih bunga kesukaanmu di atas nisan yang dingin.


"Hai,Nil... apa kabar? Lama gak ketemu..." ucapku lirih. Suaraku tercekat,bersaing dengan desau angin sore yang memainkan ujung kemejaku. "Maafin aku ya,baru bisa datang sekarang."


Satu sampai lima tahun telah berlalu sejak kepergianmu yang mendadak itu. Kepergian yang masih menyisakan lubang besar di hatiku,sebuah luka yang lahir dari ketololanku sendiri karena tak menyadari bahwa kamu sedang berjuang sendirian melawan sakitmu.


"Kamu mungkin gak bisa jawab,tapi aku yakin kamu bisa denger aku,Nil..." Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya tumpah,jatuh satu demi satu di atas rumput hijau yang menaungi peristirahatanmu. "Udah lama banget,ya? Aku butuh waktu lima tahun untuk punya keberanian berdiri di sini tanpa merasa ingin mati."


Aku mengusap nisan itu,mencoba merasakan kehadiranmu di sana.


"Hampir lima tahun... sudah banyak yang terjadi sepeninggal kamu,Sayang. Kapten tercinta kita,Luffy, sudah hampir jadi Raja Bajak Laut. Tinggal sedikit lagi. Loki yang selalu haus akan pengakuan itu,sekarang sudah dapat tahta yang tepat untuknya sebagai penjaga garis waktu," aku terkekeh getir di sela tangisku. "Oh,dan MU... tim kesayangan kamu itu? Sekarang mereka ada di peringkat lima belas. Haha! Kacau banget,kan? Sesuatu yang pastinya gak mau kamu lihat kalau kamu masih ada."

Lihat selengkapnya