Janji di Kota Pahlawan: JKT48 12th Anniversary
Dunia seolah berhenti berputar bagi Nada setahun yang lalu. Aku masih ingat bagaimana ia terduduk lemas di depan laptop dengan layar yang menampilkan tulisan kejam: Sold Out.
Perayaan ulang tahun JKT48 yang ke-11 gagal kami saksikan hanya karena selisih beberapa detik saat war tiket. Nada tidak menangis, ltapi diamnya jauh lebih mengerikan ia hanya memandangi lightstick lamanya yang berdebu dengan tatapan kosong selama seminggu.
"Tenang,Sayang. Ke-12 nanti,aku yang bakal turun tangan," janjiku waktu itu.
Dan di sinilah kami sekarang. Di dalam gerbong kereta eksekutif yang melaju membelah pulau Jawa menuju Surabaya.
"Sayang,tiketnya nggak ketinggalan kan? Barcodenya udah di-screenshot? Powerbank penuh?" Nada memberondongku dengan pertanyaan setiap sepuluh menit sekali. Ia mengenakan kaos merchandise JKT48 edisi lama yang masih sangat ia rawat.
"Aman,Tuan Putri. Semua sudah di tangan. Kamu duduk manis saja,nikmati pemandangan," jawabku sambil menyodorkan earphone. Kami berbagi musik sepanjang jalan,mendengarkan lagu-lagu setlist lama yang membawa kami kembali ke masa SMP.
Sesampainya di Surabaya,kami mampir sebentar ke rumah saudaraku untuk menitipkan Irus.
"Titip ya,Mbak. Kalau dia rewel kasih biskuit aja," pesan Nada sambil menciumi pipi Irus berkali-kali. Ada rasa berat,tapi antusiasme nonton konser pertama pasca-pulih dan pasca-pandemi ini mengalahkan segalanya.
Suasana di dalam hall konser benar-benar magis. Ribuan lightstick berwarna-warni mulai menyala,menciptakan lautan cahaya yang dulu hanya bisa kami lihat di layar ponsel. Saat overture berkumandang,aku melirik Nada. Matanya berkaca-kaca.
"OII! OII! OII! OII!"
Suara chant ribuan orang menggetarkan ruangan. Kami berteriak sekuat tenaga,seolah-olah semua beban pikiran tentang operasi,tentang paranoia masa lalu,dan tentang rasa lelah mengurus rumah tangga ikut keluar bersama teriakan kami.
"Sayang,itu Shani! Cantik banget!" teriak Nada di telingaku,mencoba mengalahkan dentum musik.
"Iya sayang,si kapten Persipura hehehe!"
Aku tertawa,ikut mengayunkan lightstick mengikuti irama. Di sela-sela lagu,aku menggenggam tangannya erat. Tangannya sudah hangat,tidak lagi sedingin saat ia terbaring di rumah sakit dulu. Ini bukan sekadar nonton konser; ini adalah perayaan bahwa kami berhasil melewati masa sulit.