Aroma nasi goreng mentega dan bawang putih yang menguar dari dapur adalah satu-satunya hal yang terasa akrab di rumah itu. Sisanya, dingin. Bahkan ketika matahari Jakarta di luar sana mulai memanaskan aspal, suhu di dalam ruang makan berukuran empat kali empat meter ini seolah tertahan di titik beku.
Sarah berdiri membelakangi meja makan, tangannya bergerak mekanis membalik telur mata sapi di atas wajan. Gerakannya rapi, terukur, dan tanpa gairah. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa saja yang sudah duduk di kursinya masing-masing. Bunyi gesekan kursi kayu, derit halus lantai parquet, dan embusan napas berat yang familier sudah cukup menjadi penanda.
Di ujung meja, Bima—suaminya—sedang sibuk mengancingkan lengan kemeja kerja berwarna biru muda. Di samping piringnya, sebuah tas kerja kulit hitam tegak berdiri, siap sedia seperti tameng. Pandangan mata Bima lurus menatap layar iPad yang menyala, menampilkan grafik saham dan rentetan email masuk yang mendesak untuk dibalas. Bagi Bima, pagi hari bukanlah waktu untuk berbincang, melainkan garis start sebuah pacuan yang tidak boleh ia kalahkan.
"Kopi, Mas?" tanya Sarah. Suaranya datar, tanpa intonasi tanya yang sesungguhnya. Itu lebih mirip seperti pengumuman sebuah prosedur tetap.
"Boleh. Hitam saja, jangan pakai gula," jawab Bima tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Sarah tidak membalas. Ia menuangkan air panas ke dalam cangkir porselen yang sudah diisi dua sendok bubuk kopi. Ia tahu betul takaran kopi Bima. Ia tahu pria itu benci rasa manis di pagi hari. Namun, saat meletakkan cangkir itu di sebelah iPad Bima, jemari mereka tidak sengaja bersentuhan. Dingin. Tidak ada sengatan listrik, tidak ada kehangatan yang menjalar. Hanya dua permukaan kulit yang saling bergesekan, lalu menjauh secepat mungkin tanpa komitmen.
Di seberang Bima, Nino duduk dengan punggung melengkung, hampir sepenuhnya tenggelam ke dalam layar ponsel pintarnya. Ibu jarinya bergerak cepat, menyapu layar dari bawah ke atas dengan ritme yang konstan. Di telinganya, sepasang earbuds putih terpasang rapat, mengisolasi dirinya dari ruang makan ini.
Sarah meletakkan sepiring nasi goreng dan telur mata sapi di hadapan anak sulungnya itu. "Nino, sarapan dulu. Ponselnya ditaruh."
Nino tidak menjawab. Ia hanya menggeser piring itu beberapa sentimeter mendekat, mengambil sendok dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya tetap setia menahan ponsel. Ia menyuap nasi ke dalam mulutnya tanpa benar-benar melihat apa yang ia makan. Matanya terkunci pada video pendek yang berputar di layar. Bagi Nino, rumah ini hanyalah tempat transit berfasilitas gratis, dan orang-orang di dalamnya adalah wajah-wajah yang kebetulan berpapasan dengannya di lorong.
Sementara itu, di sudut meja yang paling dekat dengan jendela, Clara duduk diam. Anak perempuan berusia tiga belas tahun itu mengenakan seragam SMP yang tampak sedikit terlalu besar untuk tubuhnya yang kurus. Clara tidak memiliki ponsel di tangannya, tidak juga memegang buku. Ia hanya menatap nanar pada kuning telur setengah matang di piringnya.
Clara mengunyah makanannya dengan sangat lambat, seolah berharap kunyahan itu bisa menunda waktu berjalan. Tinggal di rumah dengan semua fasilitas ini memang terlihat menyenangkan, tetapi Clara tidak merasa demikian. Dia tidak bisa merasakan semangat pagi yang membara seperti yang ditampilkan oleh keluarga di iklan komersial.
Bima tidak menatap Clara ketika bertanya, "Ujian matematika kamu kemarin bagaimana, Clar?"
Clara tertegun sejenak. Ia mendongak, menatap ayahnya yang masih sibuk mengetik sesuatu di iPad. "Bukan kemarin, Pa. Besok lusa."
"Oh." Bima bergumam pendek. "Ya sudah, belajar yang betul."