Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #2

Pagi yang Salah

Paginya, kesadaran Sarah kembali dalam beberapa tahap yang lambat. Pertama, ia merasakan sapuan hawa dingin dari pendingin ruangan yang berembus langsung ke arah lengannya. Kedua, ia mencium aroma kapur barus dan sisa parfum maskulin yang samar. Tahap ketiga, yang paling krusial, adalah ketika ia membuka kelopak matanya dan menyadari bahwa ia tidak sendirian di atas tempat tidur berukuran king-size itu.

Di sampingnya, berjarak tak sampai satu meter, seorang pria sedang tidur mendengkur halus. Pria itu bertubuh tegap, rambutnya agak beruban di bagian pelipis, dan wajahnya tampak kelelahan bahkan dalam kondisi terpejam.

Sarah tertegun. Jantungnya mendadak melompat ke tenggorokan.

Ia menarik selimut tinggi-tinggi hingga sebatas dada, sementara otaknya berputar cepat mencari data. Siapa aku? Aku Sarah. Sarah Amalia. Usiaku empat puluh dua tahun. Aku lulusan Sastra Inggris, aku suka berkebun, aku tahu persis tahi lalat di lengan kiriku ini sudah ada sejak lahir. Semua informasi tentang dirinya sendiri utuh, tersimpan rapi di dalam kepalanya tanpa cacat.

Akan tetapi, ketika Sarah memandang pria di sebelahnya, otaknya mendadak membentur dinding kosong.

Ia tahu pria itu adalah seorang manusia, laki-laki, dewasa. Tapi siapa? Mengapa dia bisa ada di tempat tidur Sarah? Bagaimana pria asing ini bisa masuk ke kamarnya? Apakah dia seorang penyusup? Perampok? Atau lebih buruk lagi?

Panik menjalar seperti sengatan listrik. Sarah berguling menjauh dengan sentakan kasar, membuat seprai tertarik dan menimbulkan bunyi gemeresik yang berisik. Pergerakan mendadak itu rupanya mengusik kenyamanan si pria asing. Pria itu mengerang pendek, mengucek matanya, lalu perlahan membuka kelopak mata.

Pria itu—yang sesungguhnya adalah Bima—menatap Sarah. Matanya yang semula sayu karena kantuk mendadak melebar sempurna begitu mendapati seorang wanita asing sedang menatapnya dengan pandangan meneror dari sudut tempat tidur.

"Kamu siapa?!" Pekikan Sarah memecah keheningan pagi. Suaranya bergetar hebat, tangannya yang mencengkeram selimut mulai gemetar.

Bima langsung terduduk tegak. Selimutnya merosot, menampilkan kaus oblong putih yang biasa ia kenakan untuk tidur. Ia menatap wanita di depannya dengan dahi berkerut dalam, refleks memeriksa tubuhnya sendiri, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar.

"Tunggu ... Anda siapa? Kenapa Anda ada di kamar saya?!" Suara bariton Bima terdengar tinggi, sarat akan tuntutan dan kebingungan yang sama besarnya.

"Ini kamar saya! Keluar! Keluar sekarang atau saya teriak!" Sarah meraih lampu tidur di atas nakas, memegang leher kuningan lampu itu seperti sebuah gada, siap dihantamkan kapan saja.

Bima mencoba menenangkan diri, meskipun napasnya memburu. Otaknya bekerja dengan efisiensi seorang direktur eksekutif. Nama saya Bima Wijaya. Saya pria berusia empat puluh lima tahun. Saya bekerja di perusahaan sekuritas. Saya tahu pin ATM saya, saya tahu rute jalan menuju kantor saya. Tapi saat ia menatap wanita berambut sebahu yang sedang mengacungkan lampu tidur ke arahnya, kepalanya terasa seperti sebuah ruang arsip yang baru saja hangus terbakar. Tidak ada dokumen, tidak ada nama, tidak ada memori. Kosong.

"Tenang, Mbak. Tolong tenang dulu. Saya ... saya tidak tahu bagaimana saya bisa ada di sini. Saya bersumpah saya tidak berniat jahat," ucap Bima, mengangkat kedua tangannya di udara sebagai tanda menyerah. Namun, tatapannya beralih ke dinding kamar. Ada foto pernikahan besar yang dibingkai indah. Di dalam foto itu, dirinya sedang tersenyum canggung, merangkul wanita yang sekarang sedang mengacungkan lampu tidur ke arahnya.

Bima terperangah. Ia menunjuk foto itu dengan jari gemetar. "Itu ... itu foto kita? Ta-tapi saya tidak kenal Anda!"

Sarah melirik sekilas ke arah dinding. Kepalanya mendadak pening luar biasa. Ia tahu wanita di foto itu adalah dirinya sendiri. Gaun putih itu, ia ingat pernah membelinya. Tapi pria di sebelahnya? Mengapa ingatan tentang hari pernikahan itu menguap sama sekali? Mengapa tidak ada rasa cinta, rasa benci, atau bahkan rasa familier yang tertinggal? Pria di hadapannya ini murni seorang asing.

Lihat selengkapnya