Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #3

Bukti yang Tidak Bermakna

Siang itu, Bima memutuskan untuk membuat laporan ke kantor polisi. Dia membawa serta Sarah, sementara Nino dan Clara diminta menunggu di rumah. Berbekal beberapa dokumen resmi seperti buku nikah dan Kartu Keluarga, mereka melaporkan keanehan ini kepada polisi. Berharap mendapatkan jalan keluar dari keanehan ini.

"Jadi ... bisa tolong jelaskan sekali lagi, Pak Bima?" Inspektur Satu bernama Aris mengerutkan dahi, membolak-balik selembar kertas besar berhologram resmi. "Ini Kartu Keluarga asli. Ditandatangani dinas kependudukan. Di sini tertulis jelas Bima Wijaya sebagai kepala keluarga, Sarah Amalia sebagai istri, Nino dan Clara sebagai anak. Semua nomor induk kependudukan sinkron dengan sistem kami."

"Saya tahu apa yang tertulis di sana, Pak." Bima menyahut. Suaranya terdengar serak, matanya merah karena kelelahan mental yang luar biasa. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. "Secara hukum, saya tidak membantah. Itu nama saya, itu tanda tangan saya. Tapi wanita yang bersama saya ini ... saya tidak tahu dia siapa. Saya tidak punya satu pun memori pernah hidup bersamanya. Begitu juga dengan kedua remaja yang namanya tertulis itu."

Iptu Aris bertukar pandang dengan rekannya. Dahinya berkerut kebingungan.

"Maaf, Pak, Bu. Apakah ini semacam ... amnesia kolektif? Apakah ada kebocoran gas beracun di rumah?" Petugas satunya lagi mencoba mencari penjelasan rasional.

"Kami sudah memeriksa kompor dan aliran gas, semuanya aman," potong Sarah. Suaranya terdengar dingin, tetapi jarinya yang saling bertautan di atas pangkuan bergerak gelisah. "Kami juga tidak pusing atau mual. Kepala saya berfungsi dengan sangat baik. Saya bisa menjabarkan seluruh teori sastra abad ke-19 yang saya pelajari di bangku kuliah dua puluh tahun lalu. Saya ingat nama guru SD saya. Saya ingat warna sepeda pertama saya. Otak saya tidak rusak. Saya hanya ... tidak mengenal mereka."

Sarah menunjuk Kartu Keluarga di tangan Iptu Aris dengan gerakan dagu yang kaku. Tindakan itu terasa begitu kejam, tetapi itu adalah kejujuran yang paling jujur yang bisa ia berikan saat ini.

Iptu Aris menghela napas panjang, meletakkan kembali Kartu Keluarga itu ke meja. "Begini saja. Karena tidak ada tanda-tanda tindak kriminal, tidak ada pemaksaan, dan semua dokumen menunjukkan kalian adalah satu keluarga, kami tidak bisa melakukan penangkapan atau evakuasi. Saran saya, sebaiknya Bapak dan Ibu segera ke rumah sakit. Ini sepertinya ranah medis, bukan hukum."

Setelah mendapatkan beberapa wejangan formal yang tidak benar-benar membantu, Bima dan Sarah pamit undur diri. Kecanggungan yang luar biasa kembali terjadi di bangku mobil yang tengah meluncur kembali ke rumah. Mereka berdua tidak mengatakan apa-apa, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Sesampainya di rumah, Sarah langsung keluar dari mobil begitu kendaraan itu berhenti. Bahkan, mesinnya belum dimatikan saat Sarah melompat turun, seolah dengan begitu akan membuatnya tidak semakin menggila. Bima mengabaikannya, mematikan mesin mobil dan turun dengan gerakan lambat. Kakinya melangkah memasuki rumah. Saat tiba di dinding dekat tangga, dia terdiam sejenak. Di sana terpampang sebuah bingkai foto berukuran besar digantung.

Lihat selengkapnya