Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #4

Tes Kesehatan

Aroma antiseptik yang tajam menyengat hidung Sarah begitu mereka melangkah melewati pintu geser otomatis Rumah Sakit Internasional Medika. Di bawah pendar lampu neon putih yang steril, wajah keempat orang itu nampak sangat tegang. Clara terus-menerus berjengit seolah setiap suara sekecil apapun sangat asing untuknya.

Bima berjalan di depan, mengurus seluruh administrasi dengan efisiensi yang menakutkan. Ia mendaftarkan mereka berempat sekaligus di unit Medical Check-Up eksekutif, memilih paket pemeriksaan paling menyeluruh yang bisa dibeli dengan kartu kredit limit tertingginya. Baginya, ini adalah masalah sistem. Jika sebuah mesin mendadak berhenti berfungsi dengan benar, maka langkah pertamanya adalah membawa mesin itu ke teknisi untuk dipindai kekurangannya.

"Semua akan selesai dalam beberapa jam," ucap Bima saat kembali ke ruang tunggu, menyerahkan map berisi formulir kepada Sarah. Suaranya terdengar datar, tipikal seorang profesional. "Kita lakukan pemeriksaan saraf, otak, toksikologi, hingga pemindaian menyeluruh. Pasti ada zat kimia atau virus yang memicu ini."

Sarah menerima map itu tanpa menyentuh jemari Bima. "Dan bagaimana kalau tidak ada apa-apa, Mas?"

Bima tidak menjawab. Ia langsung mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang mulai dibanjiri pesan dari kantor, berpura-pura bahwa dunia luar masih berjalan normal di bawah kendalinya.

Di sudut ruang tunggu yang agak temaram, Nino sengaja mengambil posisi duduk berjarak tiga kursi dari Clara. Ia melipat kedua tangannya di dada, topinya ditarik rendah hingga menutupi sebagian wajah. Di telinganya, musik favoritnya berdentum kencang lewat sepasang earbuds, mencoba menulikan kesadarannya dari situasi ini. Sesekali matanya melirik ke arah Bima dan Sarah. Melihat kedua orang dewasa itu berinteraksi tanpa kehangatan membuatnya merasa asing sekaligus muak. Kalau mereka berdua saja tidak saling mengenal, buat apa aku di sini? pikir Nino ketus.

Sementara itu, Clara duduk dengan lutut ditekuk ke atas kursi, memeluk kakinya sendiri. Matanya yang sembap menatap nanar pada poster besar di dinding yang menampilkan ilustrasi anatomi otak manusia dengan berbagai warna cerah. Di poster itu tertulis ‘Otak Sehat, Keluarga Bahagia’. Clara merasa poster itu sedang mengejeknya.

Prosedur pemeriksaan berjalan lambat dan melelahkan. Satu per satu, mereka digiring masuk ke dalam ruangan-ruangan gelap yang dipenuhi mesin-mesin raksasa.

Sarah berbaring di dalam tabung MRI (Magnetic Resonance Imaging) selama hampir empat puluh lima menit. Bunyi ketukan magnetik yang keras dan monoton—tak-tak-tak-tak—menggema di dalam ruang sempit itu, terasa seolah sedang memalu dinding kepalanya. Di dalam kegelapan tabung itu, Sarah mencoba memaksakan dirinya untuk memikirkan Nino dan Clara. Ia mencoba mengingat momen ketika ia melahirkan mereka. Rasa sakitnya, tangis pertama mereka, atau kehangatan saat bayi-bayi itu diletakkan di dadanya.

Lihat selengkapnya