Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #5

Tiga Puluh Hari

Malam turun di langit Jakarta dengan membawa hawa gerah yang enggan beranjak. Di dalam rumah keluarga Wijaya, tiras-tiras gorden abu-abu tebal telah ditutup rapat, mengunci keempat penghuninya. Sejak pulang dari rumah sakit, tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Makan malam dilewati dalam kecanggungan yang luar biasa. Sarah hanya memesan makanan siap saji lewat aplikasi daring, meletakkannya di atas meja, lalu mereka makan dalam waktu yang berbeda-beda seperti para penghuni losmen yang saling menghindari kontak mata.

Pukul sembilan malam, Bima duduk di sofa tunggal ruang keluarga. Jemarinya masih mengetik kaku di atas papan tik laptopnya, mencoba menenggelamkan diri dalam laporan keuangan kuartalan. Sarah duduk di ujung sofa panjang, membolak-balik halaman majalah interior tanpa benar-benar membaca satu kata pun. Nino memilih menyendiri di ruangan sebelah, berbaring di karpet bulu. Matanya tertuju pada ponsel pintar yang layarnya menampilkan linimasa media sosial yang bergerak cepat. Sementara Clara memilih di dalam kamarnya, entah apa yang dia lakukan.

Di tengah ruang keluarga, sebuah televisi layar datar berukuran enam puluh lima inci terpasang di dinding. Layarnya hitam, mati, memantulkan bayangan samar keempat orang itu seperti sebuah cermin. Keheningan malam itu begitu pekat, hingga detak jarum jam dinding di dekat dapur terdengar laksana ketukan palu hakim yang menghitung mundur sisa waktu mereka.

Tiba-tiba, televisi yang mati itu mengeluarkan bunyi dengung statis yang sangat nyaring—bzzzzz—membuat Bima dan Sarah yang berada di ruangan itu tersentak seketika.

Bima mendongak dari layar laptop. Layar televisi yang semula hitam pekat mendadak berkedip, memancarkan cahaya putih keabu-abuan yang berpendar terang, menerangi sudut-sudut ruang keluarga yang temaram. Tidak ada gambar, tidak ada logo stasiun televisi, tidak ada siaran kabel yang biasa mereka tonton. Hanya ada distorsi visual berupa garis-garis horizontal yang bergerak acak.

"Mas, kamu menyalakan TV-nya?" tanya Sarah, suaranya agak bergetar.

"Tidak.” Bima beranjak untuk meraih remote di meja, mengarahkan matanya pada tombol Power, lalu menekannya beberapa kali. "Tidak merespons. Tombol matinya tidak berfungsi."

Dengung statis itu perlahan mereda, digantikan oleh suara desis halus seperti rekaman kaset pita tua yang berputar di ruang kosong. Cahaya putih di layar perlahan menyusut, memusat menjadi sebuah latar belakang hitam pekat yang solid.

Lalu, satu demi satu, huruf-huruf berwarna putih muncul di tengah layar. Gerakan kemunculannya lambat, kaku, seolah diketik oleh mesin ketik tua yang tak terlihat. Cetak. Cetak. Cetak.

Setiap huruf yang muncul diiringi bunyi ketukan mekanis yang menggema lewat speaker televisi, menembus gendang telinga mereka dan membuat bulu kuduk berdiri.

Kalimat itu terbentuk sempurna di tengah layar:

KALIAN PUNYA 30 HARI UNTUK MENJADI KELUARGA LAGI, ATAU SEMUA AKAN HILANG.

Mereka berdua membeku. Ruangan itu mendadak kehilangan pasokan udara.

Lihat selengkapnya