Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #6

Wawancara Keluarga

Pukul delapan pagi pada hari kedua, ruang makan berubah fungsi menjadi ruang interogasi.

Bima duduk di kepala meja dengan sebuah buku catatan bergaris dan pulpen montblanc hitam di tangannya. Di hadapannya, tiga lembar kertas kosong telah disiapkan. Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden tidak lagi membawa kehangatan, melainkan memperjelas guratan lelah dan lingkaran hitam di bawah mata Bima. Ia tidak bisa tidur semalam. Angka tiga puluh seolah terus berkedip di pelupuk matanya setiap kali ia mencoba memejamkan mata.

"Kita mulai dari hal yang paling mendasar, yaitu fakta," Bima membuka suara. Nadanya kaku seperti sedang memimpin rapat divisi yang gagal memenuhi target kuartalan. "Pesan semalam memberi kita tenggat waktu. Kita tidak tahu apakah itu ancaman nyata atau bukan, tapi kita tidak bisa mengambil risiko. Jika syarat untuk memicu kembali ingatan kita adalah 'memahami satu sama lain', maka kita harus mulai dari mengumpulkan data."

Nino, yang duduk paling jauh dekat pintu keluar, mendengus pelan sambil memutar-mutar ponselnya di atas meja. "Data? Lu pikir kita lagi survei penduduk?"

"Jika kamu punya solusi yang lebih cerdas, silakan bicara, Nino," sahut Bima tanpa emosi, matanya menatap tajam remaja itu. "Tapi selama kamu masih menumpang di rumah ini dan keselamatan kita semua terancam, kamu ikuti aturan saya. Jelas?"

Nino memilih bungkam, meski rahangnya mengeras. Ia mengalihkan pandangan ke arah luar jendela. Namun, ia menggerutu pelan kata-kata seperti ‘menumpang’, ‘enak saja’, dan ‘ini rumahku’.

"Saya buat beberapa daftar pertanyaan dasar." Bima melanjutkan, mengabaikan protes senyap Nino. "Kita lakukan bergiliran. Nama lengkap, tanggal lahir, pekerjaan atau sekolah, rutinitas harian, kesukaan, dan ketidaksukaan. Kita rekam semuanya secara tertulis. Sarah, bisa kita mulai dari kamu?"

Sarah menghela napas panjang. Ia menatap cangkir tehnya yang mulai dingin. "Baik. Nama saya Sarah Amalia. Lahir di Bandung, 14 Mei 1984. Saya lulusan Sastra Inggris dari Universitas Indonesia. Pekerjaan saya ..." Sarah mendadak jeda. Ia menatap tangannya sendiri yang kurus. "... ibu rumah tangga. Rutinitas saya adalah memastikan rumah ini bersih, menyiapkan makanan, dan mengelola keuangan domestik."

"Apa yang kamu sukai, Sarah?" Bima menulis dengan cepat, guratan penanya terdengar bergeser kasar di atas kertas.

"Saya suka berkebun. Saya punya beberapa pot tanaman monstera dan kuping gajah di halaman belakang," jawab Sarah kaku. Sambil menceritakan hal itu, otaknya mendadak memproses sesuatu yang aneh. "Saya ingat cara merawat tanaman itu. Saya ingat kapan harus memberi pupuk. Tapi ... saya tidak ingat apakah ada di antara kalian yang pernah membantu saya menyiramnya, atau apakah tanaman itu pernah membuat kita bertengkar."

"Dicatat," gumam Bima. "Lalu, apa yang tidak kamu sukai?"

Lihat selengkapnya