Hari Ketika Kami Bukan Keluarga

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #7

Sang Kepala Keluarga

Bagi Nino, rumah ini telah berubah menjadi labirin kecurigaan, dan pria paruh baya bernama Bima Wijaya adalah ancaman terbesar di dalamnya.

Tanpa memori masa lalu yang mendikte bahwa ia harus menghormati pria itu sebagai sosok ‘Papa’, Nino melihat Bima sebagai sosok yang dingin dan cenderung sinis. Yang ia lihat hanyalah seorang pria tegap berambut cepak, berwajah kaku tanpa ekspresi, dan memiliki kontrol obsesif terhadap sekelilingnya. Bima berjalan dengan langkah tegap yang konstan, berbicara dengan intonasi bariton yang tidak pernah naik-turun, dan selalu menuntut efisiensi dari semua orang.

Pria ini menyebalkan, pikir Nino setiap kali mereka berpapasan di koridor. Gimana mungkin gue punya hubungan darah dengan robot kayak dia?

Pada hari keempat, hujan deras mengguyur Jakarta sejak siang, mengunci mereka berempat di dalam rumah lebih rapat dari biasanya. Nino yang bosan setengah mati akhirnya memutuskan untuk turun ke lantai satu, berniat mengambil sebotol air soda dari kulkas. Namun, langkah kakinya terhenti di undakan tangga terakhir ketika ia melihat Bima sedang berada di ruang kerja kecilnya yang terletak di bawah tangga.

Pintu ruang kerja itu dibiarkan terbuka sedikit. Dari celahnya, Nino bisa melihat Bima sedang duduk di balik meja jati besar. Pria itu tidak sedang menatap layar laptop atau memeriksa grafik saham seperti biasanya. Ia hanya duduk diam, menatap lurus ke arah dinding kosong di hadapannya.

Nino bersembunyi di balik bayangan pilar tangga, melipat tangan di dada, dan mulai mengamati. Lampu di dalam ruang kerja itu temaram, hanya menyisakan pendar kuning dari lampu meja. Di bawah cahaya itu, Bima tampak berbeda. Bahunya yang biasa tegak laksana perwira kini tampak sedikit melengkung, seolah-olah ada beban tak kasat mata yang sedang menekan pundaknya ke bawah.

Bima menarik napas panjang—sebuah embusan napas yang sangat berat. Saking beratnya hingga terdengar seperti rintihan samar yang tertahan di tenggorokan. Pria itu kemudian membuka laci meja paling bawah, mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berwarna hitam yang dikunci dengan gembok kombinasi angka.

Jemari Bima yang besar bergerak memutar angka gembok. Klik. Kotak itu terbuka.

Nino menajamkan pandangannya, bersiap melihat apakah Bima menyembunyikan sesuatu yang ilegal atau mungkin petunjuk tentang fenomena aneh yang menimpa mereka. Namun, apa yang dikeluarkan Bima dari dalam kotak itu justru membuat Nino mengernyitkan dahi.

Itu bukan dokumen rahasia. Itu adalah tumpukan botol obat plastik kecil dan beberapa lembar tagihan rumah sakit berlogo garis merah.

Lihat selengkapnya