Mesin mobil sedan merah itu bergetar halus di tengah kemacetan sore Jakarta yang membara. Sinar matahari yang menyilaukan memantul di atas kap mobil, memancarkan gelombang hawa panas yang seolah-olah berusaha menembus kaca depan. Di dalam kabin, pendingin ruangan disetel ke suhu terendah. Namun atmosfer di antara ketiga manusia di dalamnya tetap terasa kering dan gersang.
Hari ini adalah hari kelima sejak malam penghapusan itu terjadi. Angka 25 seolah terukir tak kasat mata di pelupuk mata masing-masing anggota keluarga Wijaya, menghitung mundur sisa waktu mereka dengan kejam.
Bima tidak bersama mereka sore ini. Pria itu menerima telepon darurat mengenai pergerakan bursa saham yang aneh sehingga harus tetap tinggal di kantor. Padahal, hari ini seharusnya Bima bisa pulang lebih awal untuk mengantar Nino dan Clara les. Akibatnya, Sarah terpaksa mengeluarkan mobil pribadinya dari garasi—yang sebetulnya adalah hadiah pernikahan dari Bima—untuk mengambil alih tugas yang paling ia hindari, yaitu menjadi sopir bagi dua remaja yang secara biologis adalah anaknya, tetapi secara psikologis adalah orang asing yang menumpang di kursi belakang.
Sarah mencengkeram kemudi dengan sarung tangan kainnya. Matanya lurus menatap lampu lalu lintas di perempatan Jalan Fatmawati yang masih menyala merah. Angka digital di lampu itu menghitung mundur dari 90 ke 89. Di belakangnya, Nino sibuk menatap jendela samping dengan sepasang earbuds yang menyumpal telinga. Sementara Clara duduk di sebelah Nino, memeluk tas sekolahnya dengan pandangan kosong yang melekat pada karpet mobil.
"Kalian ... sudah membawa bekal yang saya ... yang Mama siapkan?" Sarah membuka suara, memaksakan kata 'Mama' keluar dari tenggorokannya. Rasanya masih seperti memakai sepatu yang salah ukuran. Sempit, kaku, dan membuat tidak nyaman.
"Udah," sahut Nino pendek tanpa menoleh.
"Sudah, Ma. Terima kasih," ucap Clara pelan.
Lampu merah masih menyisakan waktu lima puluh detik. Untuk mengusir rasa canggung yang mencekik, Sarah mengalihkan pandangannya ke sisi kiri jalan, mengamati deretan ruko, pedagang asongan yang menjajakan tisu, dan kerumunan orang yang menunggu bus di dekat sebuah gang sempit.
Saat itulah, pandangan Sarah terkunci pada sesosok figur.
Di ujung gang yang agak teduh oleh kanopi pohon ceri, seorang perempuan berdiri diam. Perempuan itu mengenakan setelan blazer berwarna krem formal tanpa dasi. Rambutnya disanggul rapi ke belakang dan sebuah kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya. Ia memegang sebuah sabak digital di tangan kiri, sementara tangan kanannya tampak sedang merapikan lipatan syal sutra bermotif geometris di lehernya.
Dada Sarah mendadak berdenyut kencang. Sebuah sengatan familier yang aneh menghantam dinding kesadarannya. Otaknya—yang selama lima hari ini terasa seperti ruang arsip yang terkunci—mendadak berputar dengan kecepatan tinggi.
Aku kenal dia, batin Sarah berteriak. Aku tahu cara dia melipat lengan blazernya. Aku tahu bentuk kacamata itu. Tapi siapa? Siapa dia?!
Sarah memajukan tubuhnya, dadanya hampir menyentuh kemudi, matanya menyipit mencoba menangkap detail wajah perempuan di ujung gang itu. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan sensasi 'ingatan' yang begitu kuat terhadap objek hidup di luar dirinya sejak malam terkutuk itu. Namun, seperti sebuah teka-teki silang yang kehilangan kotak jawabannya, nama perempuan itu tetap tertahan di balik kabut tebal otaknya.
Saat Sarah sedang tenggelam dalam badai pikirannya, sebuah suara dari kursi belakang memecah lamunan.